Jember (beritajatim.com) – Pembinaan bulutangkis di Kabupayen Jember, Jawa Timur, memerlukan sinergi dengan sekolah. Seorang atlet bulutangkis sudah harus menentukan keseriusan untuk menjadi seorang profesional pada usia 11 tahun.
Formatur Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Jember Ervan Friambodo mengatakan, pembinaan bulutangkis sudah dilaksanakan sejak usia pradini, usia dini, usia anak, hingga dewasa. “Kategori itu yang kemudian menjadi konsentrasi perkumpulan bulutangkis (PB) dan dikuatkan PBSI. Sumber daya atlet sudah terpetakan sejak usia pradini, usia delapan tahun dengan jeda waktu dua tahun seiring naiknya usia,” katanya, Sabtu (10/6/2023).
Perkumpulan bulutangkis harus sudah bisa memetakan masa depan atlet binaan sebagai atlet profesional pada usia sebelas tahun. “Setelah umur sebelas tahun, seorang atlet punya waktu dua tahun untuk menjadi pemula,” kata Ervan.
Ervan mencontohkan pebulutangkis tunggal putri Thailand Ratchanok Intanon sudah mencapai peringkat satu dunia pada 21 April 2016 saat usianya masih 18 tahun dan menjadi juara dunia termuda sepanjang sejarah. Mia Audina pebulutangkis Indonesia, memperkuat tim Piala Uber Indonesia pada usia 14 tahun, dan menjadi penentu kemenangan atas China dalam pertandingan final pada 1994.
“Artinya klasifikasi talenta yang sudah terpetakan pada usia 11 tahun sudah menentukan pilihan hidup apakah jadi pebulutangkis profesional atau tidak. Apakah jadi atlet atau sekolah, atau menjadi atlet kemudian bersekolah, ini kan maknanya berbeda,” kata Ervan.
Dalam situasi ini, menurut Ervan, klub sudah harus bisa mengondisikan bahwa studi anak asuh mereka bisa dilalui dengan keutamaan menjadi seorang atlet. “Komunikasi PBSI dengan teman-teman di sekolah sudah terjalin sejak lama. Mulai dari SMP Negeri 6 yang sudah menetapkan (untuk menerima atlet berprestasi dari) cabang olahraga bulutangkis. Sebelum ini SMP Negeri 3 juga. Sekarang SMP Negeri 1, siap untuk menampung atlet-atlet bulutangkis,” katanya.
PBSI memberikan informasi kepada sekolah mengenai atlet-atlet berprestasi. “Tentunya peran Dinas Pendidikan untuk terus memberikan arahan secara simultan dari waktu ke waktu terkait dengan pendidikan anak-anak sebagai atlet,” kata Ervan.
PBSI menyerahkan kepada atlet untuk memilih sekolah yang diinginkan. “PBSI kalau bisa membantu, kami akan hadir. Kami kembalikan ke klub, kalau klub sudah membuat keputusan bahwa sekolah-sekolah itu sudah selesai (dikomunikasikan) di tingkatan mereka, baguslah,” kata Ervan. [wir]






