Surabaya (beritajatim.com) – Sebanyak 96 karya ilmiah dipresentasikan dalam The Fourth International Conference on Social, Politics, Administration and Communication Science (ICoSPACS) 2025 yang berlangsung di Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya pada 29-31 Juli 2025.
Konferensi ini digelar oleh Forum Komunikasi Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik serta Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FK-DKISIP), dan menjadi ajang tahunan para akademisi untuk mempresentasikan hasil riset terkini.
ICoSPACS mengangkat tema “Nationalism Beyond Borders: Navigating Challenges of the Digital Era in Social and Political Sciences.” Fokus utama konferensi adalah memperkuat budaya riset yang berintegritas, dengan penekanan pada penghindaran plagiarisme dan peningkatan kualitas publikasi ilmiah.
“Setiap paper diuji plagiarism dan similarity menggunakan aplikasi Turnitin. Toleransinya maksimal 25 persen. Kalau tidak lolos, wajib direvisi dan diperbaiki hingga sesuai standar,” tegas Ketua FK DKISP, Dr. Tatang Sudrajat.
Para dosen peserta konferensi mempresentasikan riset lapangan dan kajian kepustakaan dari berbagai subtema, seperti transformasi digital, globalisasi administrasi publik, politik digital, hingga gender dan mediatization.
Output utama konferensi ini berupa conference proceeding (e-book), jurnal nasional terakreditasi SINTA 2–4, hingga jurnal internasional bereputasi, termasuk yang terindeks Scopus.
“Dosen harus menulis sebelum namanya ditulis orang lain. Forum ini membantu dosen menaikkan jabatan akademik melalui publikasi ilmiah yang bermutu dan bertanggung jawab,” ujar Tatang.
Konferensi ini diikuti oleh 55 institusi pendidikan tinggi dari seluruh Indonesia. Tercatat 58 peserta hadir secara daring dan 38 hadir luring di kampus Untag Surabaya. Selain dosen, peserta juga berasal dari kalangan praktisi, pejabat publik, mahasiswa, dan pengusaha.
Sedangkan Ketua Panitia, Prof. V. Rudy Handoko menyebut konferensi ini menjadi forum strategis menumbuhkan budaya akademik dan memperluas jejaring keilmuan. Harapannya, di tahun-tahun mendatang, kualitas penyelenggaraan dan kontribusi keilmuan terus meningkat.
“Kami ingin bukan hanya dari kalangan dosen, tapi juga lebih banyak praktisi dan aktor kebijakan yang hadir. Budaya meneliti dan menulis ini harus diperluas,” tandasnya. [ipl/but]






