Surabaya (beritajatim.com) – Menjadi penerus usaha keluarga tidaklah mudah. Apalagi usaha keluarga yang ditekuni dibidang pertanian. Guratan khawatir di hati Rizki Zulfikar (25) jelas terlihat.
Pandangan matanya yang nanar saat ditanya akan dibawa kemana usaha keluarganya seolah tak bisa disembunyikan. Saat mengawali bercerita pun Rizki masih belum sepenuhnya percaya diri. Agak lama dirinya terdiam dan menjawab.
“Kami satu kampung mengandalkan hidup dari jualan panen singkong, begitu juga keluarga saya,” ucapnya diiringi nafas berat.
Agaknya banyak pikiran yang menggelayut di kepalanya. Dirinya yang baru saja lulus dari Universitas Islam Madura kini harus ikut menggeluti profesi yang sama dengan ayahnya yakni menjadi penjual singkong di pasar Pakong yang berada di Kabupaten Pamekasan Pulau Madura.
“Desa kami memiliki curah hujan yang merata sepanjang tahun sehingga singkong bisa tumbuh subur dan setiap pekan bisa kami bisa membawa hasil panen singkong ke pasar,” beber Rizki.
Namun mengandalkan pendapatan dari menjual singkong saja tidaklah cukup. ayah Rizki pun membuat olahan lain dari singkong yakni tape dan kerupuk Tette (nama kripik singkong di Madura -red).
“Tetapi kerupuk Tette juga tidak banyak yang bisa kami bawa ke pasar apalagi saat musim penghujan, hanya bisa membawa 3 kg. Sebagai anak yang sudah bergelar sarjana saya punya beban bagaimana bisa mengembangkan usaha keluarga ini hingga pendapatan kami meningkat,” papar sarjana Teknik Informatika itu.
[berita-terkait number=”4″ tag=”BRI”]
Hingga akhirnya Rizki melihat karyawan BRI Unit Pakong, Fikri Zulfikar sering mendatangi petani singkong di kampungnya. Rizki pun memberanikan diri untuk ikut tawaran Fikri yang ternyata Mantri BRI Unit Pakong.
“Saya diajak ikut rapat dan pelatihan lalu dikasih ide. Katanya kami harus menemukan diversifikasi produk singkong, salah satunya bisa dengan membuat kue proll tape. Walaupun pak Mantri tidak mengajarkan teknis membuat proll tape, saya tertantang untuk membuatnya di rumah,” kenangnya.
Tentunya membuat proll tape tak semudah yang ada dibuku resep. Beruntung ibu dan adik perempuannya mau melakukan berbagai percobaan resep hingga mereka menemukan resep yang pas.
“Kami pun melakukan uji coba rasa dengan menjualnya di pasar Pakong sambil tetap menjual tape dan kerupuk Tette. Dan ternyata respon pasarnya bagus dan seringkali ada hajatan, proll tape yang saya jual Rp 20 ribu per kotak ini banyak dipesan pelanggan,” jelas Rizki.
Namun proll tape pun tak langsung mendapatkan pelanggan. Kendala pemasaran pun dialami Rizki, beruntung sang Mantri BRI siap membantu dengan memberikan strategi pasaran melalui diskusi dan pelatihan.
“Kami memang ditugaskan BRI untuk membuat cluster UMKM binaan di setiap wilayah kerja kami. Dan setelah melewati pembinaan 1,5 tahun, produk proll tape dikenal warga Madura sebagai khas Desa Pakong Pamekasan,” ungkap Fikri.
Walhasil kini hampir 1 desa memiliki usaha proll tape yang kini menjadi ikom desa Pakong Pamekasan. Fikri juga berharap akan terbentuk sentra industri UMKM baru di wilayah kerjanya itu.[rea]






