Malang (beritajatim.com) – Sebanyak 603 siswa SMP Negri 1 Sukorejo, Pasuruan, semringah ketika materi membuat kain batik diajarkan pada mereka yang duduk dibangku kelas 7 dan kelas 8 ini.
Secara kolosal, ratusan siswa siswi diajari langsung cara membuat Batik Tulis sebagai bagian dari program Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dengan tema Membatik Bersama Membangun Bangsa.
Para pembatik handal dari Galeri Batik Lintang Desa Ngijo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, menjadi mentor ratusan siswa yang datang ke sekolah secara langsung.
“Kami tidak akan melanggar aturan. Karena kegiatan outing class kan dilarang ya, jadi kami cari solusinya. Namun kami juga tidak akan membatalkan kegiatan yang sudah terprogram, Alhamdulillah setelah rapat dengan Batik Lintang, ada titik tengah serta solusi, hingga program ini bisa berjalan lancar. Sukses dan menggembirakan bagi semua pihak, terima kasih Bu Ita dan timnya,” ungkap Dicky Noveka. F, S.Pd , ketua Proyek Penguatan Profil Pancasila (P5) SMPN 1 Sukorejo, Pasuruan, Selasa (29/4/2025).
Batik Lintang Malang bukan hal baru mengadakan pelatihan dasar membatik tulis secara kolosal bersama pelajar SMP. Sebelumnya, Batik Lintang Malang juga pernah melakukan hal sama dengan ratusan siswa PAUD yang dikemas lewat program “Ciamik”.
Meski demikian, bukan berarti tanpa tantangan, pemberitahuan terkait kondisi kekinian yang tiba-tiba jelang Hari H bukanlah hal biasa dan menggembirakan apalagi semua sudah di prepare sejak awal.
“Kami sudah mempersiapkan kedatangan siswa ke Galeri, berhubung ada kondisi kekinian, kamipun mencoba mencari solusi dan strategi terbaik agar semua bisa berjalan tanpa melanggar dan menabrak aturan,” ucap Ita Fitriyah, S.T, M.T, Owner Batik Lintang Malang.
Ita pun mengerahkan seluruh kemampuannya dengan memobilisasi pembatiknya sebanyak 4 orang serta membawa peralatan dan bahan baku batik tulis menuju SMPN 1 Sukorejo di Jalan Sumber Gareng RT 03/RW 06, Sengkan, Sukorejo, Kabupaten Pasuruan.
Tim Batik Lintang Malang pun bergerak menyiapkan seluruh peralatan membatik selama dua hari sejak Senin (28/4/2025) hingga Selasa (29/4/2025) hari ini.
“Awalnya kami takut namun setelah menjalani dan mengetahui hasilnya, jadi pingin membatik lagi karena ini kurang bagus,” ujar Marwah, Siswi Kelas 7, yang mengaku kurang puas dengan hasil karyanya karena baru pertama kali membatik tulis.
Hal serupa juga dirasakan oleh Syaugi (14) siswa kelas 8i. “Saya kira membatik itu mudah, ternyata banyak tantangannya dan harus sabar ya,” tuturnya.
Sebaliknya, Siswi Kelas 8 bernama Cecil Oktavia mengaku senang dan semringah. “Saya senang sekali, hasil membatiknya sesuai yang saya inginkan dan bayangkan. Saya pasti bisa lebih baik lagi jika ada membatik lagi,” ucap Cecil tersenyum.
Ia pun menenteng dan membentangkan batik tulis karyanya keluar dari auditorium selepas sesi foto bersama wali kelas dan Tim Batik Lintang.
Menyiapkan proses membatik secara kolosal, sambung Ita, butuh kerja keras dan ketelitian tinggi. Adapun motif batik tulis yang diambil yakni simbol Kapuk Randu. Karena daerah SMPN 1 Sukorejo Pasuruan, sebagai daerah penghasil kapuk yang bisa di rubah menjadi berbagai barang seperti kasur, guling, bantal dan lain lain.
“Biasa ketika di awal pasti meremehkan dan dianggap momok yang menakutkan, namun ketika melihat hasil tidak sesuai ekspektasi mereka menjadi kepo dan ingin kembali membatik,” pungkas Ita yang juga Asesor Penguji Pembatik Nasional. (yog/ian)






