Surabaya (beritajatim.com) — Film tak lagi sekadar hiburan. Lebih dari itu, film menjadi cerminan budaya sekaligus medium kritik sosial yang mampu merekam dinamika zaman. Dalam beberapa tahun terakhir, perfilman Indonesia menunjukkan perkembangan signifikan baik dari sisi cerita, kualitas produksi, hingga eksplorasi lokasi. Di tengah geliat dunia film, Kota Surabaya ikut mengambil peran penting sebagai latar sekaligus inspirasi berbagai karya film Tanah Air.
Kota Pahlawan ini tak hanya dikenal lewat sejarahnya, tetapi juga melalui sudut-sudut kota yang menyimpan cerita. Tak heran jika sejumlah film memilih Surabaya sebagai latar untuk memperkuat nuansa cerita yang diangkat.
1. Na Willa
Salah satunya adalah film Na Willa. Dirilis pada 18 Maret 2026, film ini merupakan adaptasi dari novel karya Reda Gaudiamo. Cerita berlatar di Gang Krembangan, Surabaya, pada era 1960-an. Nuansa nostalgia terasa kental melalui gambaran kehidupan kampung, persahabatan anak-anak, hingga imajinasi masa kecil yang hangat. Film ini tak hanya menyajikan cerita ringan, tetapi juga menghadirkan potret kehidupan keluarga yang sederhana namun penuh makna.
2. Bumi Manusia
Selain itu, ada pula film Bumi Manusia yang diadaptasi dari novel legendaris karya Pramoedya Ananta Tour. Berlatar era kolonial 1890-an, film ini mengisahkan perjalanan Minke, seorang pribumi terpelajar yang mengenyam pendidikan di HBS (Hoogere Burgerschool). Surabaya, khususnya kawasan Wonokromo, menjadi salah satu latar penting dalam film ini, terutama sebagai tempat tinggal tokoh Nyai Ontosoroh. Lewat visual dan narasi yang kuat, film ini berhasil menghadirkan potret ketimpangan sosial di masa kolonial.
3. Perang Kota
Surabaya juga turut berkontribusi dalam produksi film bertema sejarah seperti Perang Kota. Film ini berlatar Jakarta tahun 1946, masa awal kemerdekaan Indonesia yang penuh gejolak. Menariknya, proses syuting banyak dilakukan di kawasan Kota Lama Surabaya untuk menghadirkan atmosfer bangunan tua yang autentik. Selain itu, pengambilan gambar juga dilakukan di Semarang, Ambarawa, hingga Yogyakarta guna memperkuat nuansa peperangan yang lebih komprehensif.
4. Koesno, Jati Diri Soekarno
Tak hanya film fiksi, Surabaya juga menjadi latar penting dalam film dokudrama Koesno, Jati Diri Soekarno. Film ini mengangkat kisah masa kecil hingga remaja Presiden pertama Indonesia, Soekarno. Berbagai lokasi bersejarah di Surabaya digunakan untuk menggambarkan perjalanan hidup Bung Karno. Menariknya, film ini sempat masuk nominasi Film Dokumenter Pendek Terbaik di Festival Film Indonesia 2022.
5. Aruna dan Lidahnya
Sementara itu, film Aruna dan Lidahnya menghadirkan sisi lain Surabaya melalui wisata kuliner. Dalam film ini, Surabaya menjadi kota pertama yang disinggahi oleh Aruna dan kedua sahabatnya. Salah satu momen menarik adalah ketika mereka mencicipi rawon iga—kuliner khas Surabaya yang kaya rempah. Bahkan, rawon sempat dinobatkan sebagai salah satu sup terenak di dunia versi TasteAtlas. (fyi/aje)






