Magetan (beritajatim.com) – Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Magetan, Suwoto, mengatakan Magetan memiliki banyak sekolah yang membutuhkan perbaikan. Dari total 385 sekolah dasar negeri dan 65 SMP (termasuk swasta), terdapat sekitar 45 sekolah yang masuk dalam kategori kerusakan berat.
“Kalau jumlah SD yang rusak di Kabupaten, banyak. Kita yang masuk ya sesuai dengan dapodik itu kan ada kategori ringan, sedang, dan berat. Yang berat aja mungkin ada sekitar 45,” jelas Suwoto.
Dia lantas mengonfirmasi perbaikan SDN Ngelang 1 akan segera dilakukan setelah mengalami kerusakan akibat hujan deras. Suwoto menyebut bahwa sebenarnya perbaikan sekolah bisa diusulkan secara reguler, tetapi bangunan tersebut mengalami kerusakan lebih cepat dari yang diperkirakan.
“Jadi, terkait dengan adanya sekolah yang rusak, kebetulan di SDN Ngelang 1 ini kemarin ada musibah ya. Sebenarnya ini kan bisa diusulkan reguler, tapi sebelum diperbaiki ternyata sudah kedahuluan karena ya mungkin ada kondisi bangunnya memang juga waktunya kemudian di tepat juga karena hujan deras,” ujar Suwoto.
Selain mengandalkan APBD, Disdikpora Magetan juga berharap mendapatkan bantuan dari Dana Alokasi Khusus (DAK) yang dikelola oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Namun, hingga saat ini, pemerintah daerah masih menunggu konfirmasi terkait sekolah mana saja yang akan mendapatkan alokasi dana tersebut pada tahun 2025.
“Lah kami yang sampai hari ini belum terupdate yang mendapatkan DAK 2025 itu sekolah mana aja? Karena yang nyurvei itu Kementerian PUPR,” ujar Suwoto.
Pihaknya berharap Kementerian PUPR segera mengonfirmasi daftar sekolah yang akan menerima bantuan, mengingat kondisi beberapa sekolah sudah sangat mendesak untuk diperbaiki.
Perbaikan Prioritas untuk Keselamatan Siswa
Menurut Suwoto, pemerintah daerah akan memprioritaskan perbaikan sekolah yang rusak karena sekolah merupakan kebutuhan dasar yang harus segera ditangani. Saat ini, pihaknya sedang melakukan pemetaan untuk menentukan langkah yang paling memungkinkan agar kegiatan belajar-mengajar tetap berlangsung dengan aman.
“Nah, insya Allah nanti begini. Karena ini kan sekolah itu kan menjadi kebutuhan dasar ya. Yang harus kita dahulukan. Oleh karena itu, karena siswa harus di tempat untuk belajar. Sementara tempat belajarnya itu rusak, ya nanti akan kita mapping kalau masih bisa memenuhi di diatur,” katanya.
Untuk mempercepat proses perbaikan, pemerintah berencana menggunakan Belanja Tidak Terduga (BTT) yang berasal dari anggaran daerah cadangan. Disdikpora Magetan juga telah berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta Badan Pengelola Keuangan dan Pendapatan Daerah (BPKPD) untuk memastikan pembangunan bisa segera dilakukan.
Keamanan siswa menjadi prioritas utama dalam proses pemulihan sekolah. Oleh karena itu, pembersihan lokasi dilakukan secepat mungkin agar tidak menimbulkan risiko bagi anak-anak yang bermain di sekitar area sekolah. “Harapannya lokasi sudah bersih sehingga dari sisi keamanan anak-anak itu terjamin,” tambahnya.
Karena jumlah sekolah yang harus diperbaiki cukup banyak, pemerintah daerah harus melakukan skala prioritas. Pengajuan anggaran dilakukan setiap tahun melalui Data Pokok Pendidikan (Dapodik), tetapi realisasi perbaikan tetap bergantung pada ketersediaan anggaran. [fiq/suf]






