Pacitan (beritajatim.com) – Momentum libur sekolah selama tiga pekan mendongkrak sektor pariwisata Kabupaten Pacitan. Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari retribusi objek wisata menembus sekitar Rp1,3 miliar, seiring melonjaknya jumlah kunjungan wisatawan hingga hampir 30 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disparbudpora) Pacitan, Muniirul Ichwan, mengatakan capaian tersebut dihimpun selama masa libur sekolah pada 22 Juni hingga 12 Juli 2026.
“Selama tiga minggu libur sekolah, PAD yang diperoleh dari sektor wisata kurang lebih mencapai Rp1,3 miliar,” kata Muniirul, Kamis (16/7/2026).
Pantai Klayar masih menjadi destinasi paling favorit bagi wisatawan yang berkunjung ke Pacitan. Meski demikian, sejumlah objek wisata lain mulai menunjukkan tren peningkatan kunjungan, terutama kawasan wisata di Kecamatan Pringkuku, termasuk Pantai Watu Karung.
Menurut Muniirul, peningkatan tersebut tidak lepas dari kolaborasi yang terus dibangun antara pemerintah daerah dengan pengelola destinasi wisata desa maupun swasta.
“Yang paling favorit tetap Klayar. Namun, beberapa objek wisata lain juga mengalami peningkatan signifikan, seperti kawasan Pringkuku dan Watu Karung. Salah satu upaya kami adalah memperkuat kolaborasi dengan objek wisata yang dikelola desa maupun swasta,” ujarnya.
Secara keseluruhan, jumlah wisatawan yang datang ke Pacitan selama libur sekolah tahun ini meningkat hampir 30 persen dibandingkan libur sekolah tahun sebelumnya.
Muniirul menegaskan, kenaikan tersebut bukan dipicu oleh hadirnya destinasi baru, melainkan hasil pembenahan tata kelola dan peningkatan kualitas pelayanan di seluruh objek wisata.
“Kami fokus memperbaiki manajemen pengelolaan, meningkatkan pelayanan kepada wisatawan, serta memperkuat sinergi dengan Pokdarwis, pengelola swasta, hingga biro perjalanan yang membawa wisatawan ke Pacitan,” jelasnya.
Selain pembenahan pelayanan, Disparbudpora juga memperkuat sistem pengelolaan pendapatan dengan menerapkan pemantauan transaksi secara real time. Melalui sistem tersebut, seluruh penerimaan dari destinasi wisata dapat dipantau langsung oleh pemerintah daerah.
“Setiap pukul 16.00 WIB, Bank Jatim mengambil setoran dari seluruh destinasi wisata, kemudian langsung ditransfer ke rekening bendahara penerimaan hingga masuk ke kas daerah. Dengan sistem ini, pendapatan bisa dipantau secara real time,” terang Muniirul.
Ia berharap sistem tersebut mampu meningkatkan transparansi pengelolaan keuangan sekaligus menekan potensi kebocoran PAD dari sektor pariwisata. “Harapannya, pengelolaan menjadi lebih transparan dan potensi kebocoran penerimaan daerah dapat diminimalkan,” pungkasnya. (tri/kun)






