Madiun (beritajatim.com) – Sebanyak 3.925 anak di Kabupaten Madiun mengalami stunting pada tahun 2022. Data itu dibenarkan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Madiun. Jumlah itu, sekitar 13,13 persen dari total 43.033 balita yang ditimbang pada tahun yang sama.
Sekretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Madiun Amam Santosa mengatakan, penyebabnya yakni pola asuh, perkawinan dini, dan pola makan. Maka dari itu protein hewani harus lebih ditekankan, tidak hanya kenyang, tapi gizi juga seimbang.
“Upaya yang dilakukan pembinaan sebelum menikah, sekaligus masalah kesehatan reproduksi soal kapan waktu yang tepat bagi perempuan siap jadi ibu.Kemudian Pra penanganan 1000 hari kehidupan ibu hamil terus dipantau, puskesmas sudah ada ketentuan mengatur kunjungan ibu hamil,” jelasnya.
[berita-terkait number=”5″ tag=”stunting”]
Menurutnya, data penanganan penyakit tersebut baru diketahui turun setelah bulan timbang pada Februari dan Agustus. Setelah itu dievaluasi guna menentukan target kedepan.
“Penanganan stunting sendiri dimulai saat remaja putri, ada program minum tablet tambah darah. Kemudian pra penanganan 1000 hari kehidupan ibu hamil terus dipantau di puskesmas, dengan mengatur kunjungan yang sudah ada ketentuan ,” ujarnya usai menerima kunjungan DPRD Kabupaten Madiun, Kamis (16/2/2023).
Pihaknya berupaya agar stunting turun satu digit seperti yang ditargetkan. Pun, harus dapat dukungan semua pihak. “Semua OPD harus bisa bersatu dan ada komitmen kuat agar penanganan lebih optimal. Kami siapkan 877 posyandu dengan alat standar. Harapannya semua balita tertimbang optimis bisa turun,” pungkasnya. (fiq/kun)






