Surabaya (beritajatim.com) – Mendekati penghujung bulan Juni, Rumah Sakit Lapangan Indrapura (RSLI) Surabaya terus melakukan layanan terbaik dan maksimal untuk para pasien Covid-19.
Penanggungjawab Rumah Sakit Lapangan Indrapura (RSLI), Laksamana Pertama TNI dr. I Dewa Gede Nalendra Djaya Iswara, Sp.B., Sp. BTKV memberikan keterangan terkait kondisi RSLI hari ini.
Per hari ini pasien dirawat sejumlah 360 orang, yakni terdiri dari Pekerja Migran Indonesia (PMI) 62 orang, Klaster Madura 21 orang, dan pasien mandiri 277 orang.
Namun, masih ada sejumlah pasien inden (antre masuk) RSLI sebanyak 213 orang. Kapasitas RSLI 410 bed, dan sesuai instruksi Gubernur Jawa Timur, akan dilakukan penambahan hingga kapasitas 500 bed.
“Hari ini, 50 bed yang dipinjamkan ke RS Lapangan Bangkalan sudah dikembalikan dan akan dimasukkan ke lantai 2 Gedung Museum Kesehatan untuk penambahan kapasitas RSLI. Sisanya menggenapi 500 akan diupayakan segera,” katanya.
Selama bulan Juni 2021, RSLI telah menerima 854 pasien, yang terdiri dari PMI, limpahan Klaster Bangkalan dan pasien umum dari Surabaya dan sekitarnya (351 pasien). Awal Juni komposisi pasien lebih didominasi dari PMI dan klaster Bangkalan, namun 10 hari terakhir jumlah pasien dari Surabaya meningkat tajam hingga 63,4 persen (201 pasien Surabaya dibandingkan total 317 pasien masuk 10 hari terakhir).
Meningkatnya jumlah penderita Covid-19 ini, lanjut dia, menjadi indikator makin marak dan meluasnya kembali serangan Covid-19 yang sangat dimungkinkan dengan ciri-ciri varian baru yang lebih mudah dan cepat menular.
Dari data Relawan Pendamping Keluarga Pasien Covid-19 RSLI, nampaknya klaster keluarga dan institusi kembali mendominasi pasien RSLI. Hal ini bisa jadi akibat lanjutan dari liburan panjang pascalebaran serta kendornya masyarakat menjalankan prokes.
Selama bulan Juni setidaknya terdapat 65 klaster keluarga (46 keluarga terdiri dari 2 orang, 9 keluarga terdiri dari 3 orang, 8 keluarga terdiri dari 4 orang, dan 2 keluarga terdiri dari 5 orang) dan 14 klaster institusi/perusahaan/perumahan dengan jumlah yang terpapar bervariasi antara 2,3,7,9,16 hingga 20 orang.
Nalendra mengkhawatirkan kondisi tenaga kesehatan menyusul adanya lonjakan kasus Covid-19 yang mengakibatkan RSLI kebanjiran pasien. RSLI sudah mencapai titik puncak kemampuan merawat. Dengan kapasitas 410 bed, tingkat hunian sekarang telah mencapai kisaran 350-an pasien dan jumlah inden (antre masuk) yang semakin banyak hingga sampai tembus di atas 200-an pasien.
“Yang jadi perhatian kami adalah kelelahan kawan-kawan nakes. Kita harus pahami bersama bahwa begitu nakes kelelahan imunnya turun dan akan mudah terinfeksi,” kata Nalendra.
Untuk itu, Nalendra mengimbau semua pihak untuk lebih taat dan ketat dalam menjalankan protokol kesehatan, terutama 5M ditambah 1M lagi yaitu menghindari makan bersama. Meningkatkan imunitas dengan cara makan-makanan bergizi, banyak protein, vitamin dari asupan buah-buahan, menjaga kebugaran tubuh serta pikiran agar rileks dan tidak capek.
“Kalau capek segera istirahat. Mulai sekarang harus sudah mulai menjalankan perubahan perilaku hidup bersih dan sehat dengan kebiasaan baru (new normal). Bagi yang terpapar Covid-19 atau yang merasa mulai ada gejala Covid-19 utamanya gejala ringan, isolasi mandiri di rumah merupakan pilihan yang tepat dan rasional pada kondisi sekarang ini,” tuturnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”covid-bangkalan”]
Bagi yang isolasi di rumah, disarankan tetap melaporkan kondisinya ke Puskesmas terdekat, agar dibantu untuk menjalani isolasi mandiri. Rumah sakit sudah banyak yang penuh, intensitas serta paparan Covid-19 semakin banyak dan sangat berpotensi menular. Tingkat hunian yang hampir penuh di semua faskes serta keberadaan nakes yang mulai kewalahan dan lelah, menandakan faskes mulai mengalami kejenuhan.
“Jaga selalu kesehatan masing-masing, bantu kami mengurangi beban rumah sakit beserta nakes dan relawannya, sehingga tetap dapat memberikan layanan bagi yang lebih membutuhkan,” pungkasnya. [tok/but]








