Madiun (beritajatim.com) – Tragedi berulang di Desa Tulung, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun memicu kemarahan warga.
Bekas tambang galian C yang tak kunjung ditutup kembali memakan korban. Dua anak dilaporkan meninggal dunia di lokasi yang sama, sementara upaya penanganan dinilai jalan di tempat.
Warga pun angkat suara. Mereka menilai pemerintah desa terkesan abai terhadap potensi bahaya yang sudah berkali-kali diingatkan.
“Sudah dua kali memakan korban jiwa. Harusnya ini jadi alarm keras. Kami minta segera ditutup, diratakan, dan diuruk,” tegas Maridi, warga setempat.
Menurutnya, peringatan dari warga bukan hal baru. Namun hingga kini belum ada langkah konkret yang benar-benar menyelesaikan persoalan di lapangan. Lubang bekas galian tetap dibiarkan terbuka dan membahayakan, terutama bagi anak-anak.
Keluhan serupa disampaikan Karjito. Ia menyoroti fakta bahwa korban yang jatuh seluruhnya merupakan anak-anak.
“Ini bukan kejadian pertama, dan korbannya anak-anak semua. Tapi sampai sekarang belum ada tanda-tanda akan diuruk,” ujarnya dengan nada kecewa.
Di sisi lain, Kepala Desa Tulung, Sukarno, mengakui persoalan tersebut. Ia menyebut lahan bekas galian C itu merupakan milik warga bernama Sunarto, sementara aktivitas tambang sebelumnya dikelola oleh pihak pengembang, Bambang dan Toha.
Sukarno mengatakan, upaya reklamasi sebenarnya sempat dilakukan. Namun, pengerjaan itu tidak berlanjut dan lokasi kembali dibiarkan dalam kondisi berbahaya.
“Kami sudah berkoordinasi dengan pihak pengembang agar segera melakukan reklamasi. Harapannya lahan bisa dimanfaatkan dan tidak lagi membahayakan warga,” jelasnya.
Meski demikian, pernyataan tersebut belum cukup meredam keresahan warga. Mereka mendesak pemerintah daerah turun tangan dan tidak lagi menunggu inisiatif pihak pengelola.
Bagi warga, dua nyawa yang melayang seharusnya menjadi peringatan terakhir—bukan sekadar catatan kejadian yang kembali terulang. (rbr/ted)






