Gresik (beritajatim.com)– Kepemimpinan baru Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jawa Timur langsung tancap gas dalam 100 hari pertama masa kerja dengan fokus utama pada konsolidasi internal organisasi, penguatan solidaritas antar cabang, hingga perlindungan hukum bagi profesi dokter.
Ketua IDI Jatim dr Budi Himawan, SpU menegaskan langkah awal yang dilakukan adalah memperkuat komunikasi antara cabang, dan daerah agar seluruh elemen organisasi memiliki rasa kepemilikan yang sama terhadap IDI Jawa Timur.
“Daerah adalah milik seluruh cabang. Karena itu komunikasi dan konsolidasi internal menjadi fokus utama dalam 100 hari pertama,” ujarnya di sela-sela Musyawarah Wilayah (Muswil) IDI Jawa Timur di Gresik, Sabtu (9/5/2026).
Mantan Ketua IDI Cabang Kabupaten Lamongan itu menambahkan, selain pembenahan internal, IDI Jatim juga menyiapkan tiga program prioritas utama yang akan menjadi motor penguatan organisasi ke depan.
Program pertama adalah IDI Jatim Pride sebuah konsep besar yang mencakup penguatan satuan kredit pembelajaran ilmiah (SKP), peningkatan kualitas pendidikan kedokteran berkelanjutan, hingga perlindungan hukum bagi profesi kedokteran.
Tak hanya itu, program ini juga diarahkan untuk meningkatkan soliditas dan solidaritas antar anggota IDI di seluruh Jawa Timur.
Program kedua adalah memperkuat kegiatan pengabdian masyarakat. Menurut IDI Jatim, organisasi profesi dokter memiliki roh utama dalam misi sosial dan pelayanan kepada masyarakat.
“IDI ada rohnya adalah misi sosial. Karena itu pengabdian masyarakat harus terus diperkuat,” imbuhnya.
Sementara program ketiga adalah menggelar kegiatan olahraga bersama sebagai upaya meningkatkan kebersamaan, dan kekompakan antar anggota.
Tak berhenti di situ, IDI Jatim juga menegaskan akan mengambil peran sebagai mitra strategis pemerintah melalui kritik yang baik, konstruktif, dan suportif terhadap berbagai kebijakan kesehatan.
Di sisi lain, IDI Jatim turut menyoroti masih adanya kekerasan yang dialami profesi dokter dan tenaga kesehatan. Menurut mereka, persoalan tersebut menjadi tanggung jawab bersama yang harus segera diselesaikan.
IDI Jatim menilai perlindungan hukum bagi tenaga medis sangat penting, termasuk perlindungan terhadap praktik perundungan atau bullying di lingkungan kerja.
“Bullying itu siapapun korbannya, bukan hanya di sektor kesehatan saja. Di sektor apa pun kalau ada bullying harus dihentikan,” tegasnya.
Sementara itu, dr. Abdul Fatah, Sp.PD Ketua IDI Cabang Gresik selaku tuan rumah menuturkan, proses pemilihan ketua IDI Jawa Timur berlangsung jujur demokratis dan dihadiri 34 cabang.
“IDI Cabang Gresik siap mendukung program-program ketua yang baru. Semangatnya luar biasa dan masih muda,” pungkasnya. (dny/ted)






