Surabaya (beritajatim.com) – Seorang Ekspatriat harus tinggal menetap atau sementara di luar negeri dengan tujuan tertentu. Misalnya orang yang berkewarganegaraan asing harus tinggal di Indonesia untuk keperluan tugas negara.
Untuk mempermudah seorang Ekspatriat, situs jaringan InterNations merilis peringkat tahunan kota terbaik dan terburuk untuk ekspatriat, dengan enam dari 10 kota terburuk berada di Eropa, dua di Asia dan masing-masing satu di Amerika Utara dan Afrika. Mereka mewawancarai sekitar 12.000 ekspatriat yang tinggal di 181 negara dari 1 Februari hingga 28 Februari.
Kategori penilaian kota ramah Ekspatriat mencakup; kemudahan tempat tinggal, keterjangkauan, kualitas hidup, keamanan, dan aksesibilitas.
Sedangkan untuk kategori kota terburuk untuk Ekspatriat mencakup; harga perumahan yang mahal, keamanan yang kurang, dan kurangnya kesempatan kerja.
Berikut 10 kota terburuk yang Ekspatriat versi situs InterNations.
1. Johannesburg, Afrika Selatan
Menurut survei InterNations, Johannesburg, kota terbesar di Afrika Selatan, adalah kota terburuk bagi ekspatriat. Sekitar 25 persen responden mengatakan mereka tidak senang dengan biaya hidup yang mahal, dan 39 persen menyatakan transportasi umum sangat bermasalah.
Keamanan tampaknya juga menjadi masalah bagi ekspatriat, sebanyak 62 persen dari mereka yang disurvei mengatakan bahwa mereka merasa tidak aman.
“Johannesburg bisa menjadi tempat yang berbahaya, bahkan menurut standar Afrika Selatan, Anda pasti tidak akan berada di bawah ancaman terus-menerus, tetapi Anda harus waspada terhadap potensi bahayanya,” tulis InterNations dalam artikel Business Insider.
2. Frankfurt, Jerman
Frankfurt, pusat keuangan utama di Jerman, menduduki peringkat kota terburuk kedua untuk tempat tinggal ekspatriat. Sekitar 70 persen ekspatriat yang disurvei menunjukkan bahwa perumahan yang mahal dan biaya hidup yang tinggi adalah beberapa faktor yang membuat tinggal di Frankfurt menjadi pilihan yang buruk.
Menurut survei, kota ini juga yang terburuk dalam hal transportasi umum karena biayanya yang mahal. Tiket transportasi umum yang berlaku selama sebulan seharga US$138, menurut RMV, asosiasi transportasi Jerman.
3. Paris, Prancis
Sebagian besar ekspatriat yang disurvei menunjukkan bahwa biaya hidup di ibu kota Prancis terlalu mahal. Sekitar 62 persen mengatakan biaya hidup terlalu tinggi. Selain itu, 58 persen responden menyatakan bahwa mereka sulit menjalin pertemanan dengan warga lokal, dan sekitar 23 persen merasa tidak aman.
Sisi baiknya, ekspatriat merasa bahwa Paris adalah kota yang hebat untuk merasakan budaya dan kehidupan malam.
4. Istanbul, Turkey
Istanbul, ibu kota Turkey, hanyalah salah satu dari beberapa kota di Eropa yang dinilai buruk oleh ekspatriat. Menurut survei InterNations, sekitar 57 persen menunjukkan bahwa mereka memandang ekonomi Turki secara negatif, dan hanya 45 persen percaya bahwa mereka dibayar dengan gaji yang adil.
“Mencari pekerjaan di sini sangat sulit,” kata salah satu responden survei asal Kamerun kepada InterNations.
5. Hongkong
Hong Kong, daerah otonomi khusus di Cina tenggara, adalah salah satu dari dua kota Asia di peringkat 10 terbawah. Sekitar 46 persen responden mengatakan Hongkong tidak memberikan ruang untuk kreativitas dalam budaya bisnis lokal, dan lebih dari setengahnya mengatakan mereka merasa terkekang.
Sedangkan 56 persen responden mengindikasikan bahwa mereka tidak dapat mengungkapkan pendapat mereka secara terbuka. Selain itu ada juga masalah ekonomi, sebanyak 68 persen ekspatriat yang disurvei menunjukkan bahwa biaya hidup di Hongkong terlalu tinggi.
6. Hamburg, Jerman
Hamburg, sebuah kota di Jerman utara, adalah kota lain di Eropa yang masuk dalam daftar dengan peringkat terburuk. Penilaian utama karena ekspatriat kesulitan menyesuaikan diri.
Sekitar 81 persen responden survei menunjukkan bahwa mereka kesulitan mendapatkan teman di lingkungan kota. “Dibutuhkan waktu sangat lama untuk diterima sebagai ‘teman’ mereka,” kata seorang ekspatriat Australia kepada InterNations.
7. Milan, Italia
Milan adalah kota Italia kedua dalam daftar peringkat terburuk. Menurut survei InterNations, lebih dari 50 persen ekspatriat mengatakan mereka tidak senang dengan kualitas udara di lingkungan kota dan 66 persen responden mengatakan mereka merasa birokrasi lokal sulit untuk dihadapi.
Kemudian sekitar 30 persen ekspatriat juga menyatakan bahwa mereka merasa gaji yang diberikan terlalu sedikit. Menurut situs gajiku, rata-rata gaji tahunan di Milan adalah sekitar US$43.000 per tahun. Ekspatriat asal Iran mengatakan bahwa ia merasakan kesulitan dalam mencari pekerjaan dan digaji sangat rendah.
8. Vancouver, Kanada
Vancouver adalah salah satu kota terbesar di Kanada, sekaligus satu-satunya kota di Amerika Utara yang masuk dalam daftar peringkat terburuk.
Menurut survei InterNations, 69 persen ekspatriat mengatakan biaya hidup terlalu tinggi, dan lebih dari 50 persen mengatakan pendapatan rumah tangga mereka tidak cukup untuk hidup nyaman. Hampir 40 persen tidak bahagia dengan kehidupan sosial mereka, terutama di lingkungan kota.
9. Tokyo, Jepang
Tokyo, ibu kota Jepang, adalah salah satu tujuan ekspatriat paling populer. Tetapi beberapa ekspatriat merasa kota ini bukan yang terbaik dalam hal kondisi kerja.
Dari mereka yang disurvei, 25 persen menyatakan tidak puas dengan jam kerja mereka; 30 persen mengatakan mereka tidak senang dengan keseimbangan kehidupan kerja; dan lebih dari 60 persen mengatakan budaya bisnis lokal menghambat kreativitas.
Seorang ekspatriat asal AS mengatakan kepada InterNations bahwa budaya kerja Jepang agak tertutup untuk ide-ide baru. Ekspatriat lain dari Indonesia mengatakan etos kerja Jepang sangat tegang dan tidak fleksibel.
10. Roma, Italia
Roma, ibu kota Italia, adalah salah satu dari dua kota Italia yang masuk dalam daftar peringkat terburuk InterNations.
Menurut survei InterNations, 73 persen responden mengatakan kesulitan berurusan dengan otoritas lokal, dan 50 persen lainnya mengatakan bahwa mereka merasakan pengalaman yang kurang menyenangkan dengan layanan administrasi dan pemerintah online. Kemudian lebih dari 30 persen juga mengatakan mereka prihatin dengan ekonomi Italia.
Itulah sepuluh daftar kota-kota di dunia yang paling buruk bagi Ekspatriat menurut survei InterNations. (Kai/ian)






