Surabaya (beritajatim.com) – Generasi Z, yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012, kini menjadi bagian penting dari angkatan kerja global. Namun, laporan terbaru dari Intelligent, platform konsultasi pendidikan dan karier, menunjukkan bahwa banyak perusahaan yang memutuskan hubungan kerja dengan karyawan dari kelompok ini pada tahun 2024.
Bahkan, survei mengungkapkan bahwa sekitar 60% perusahaan melaporkan telah memecat lulusan universitas baru tahun ini.
Penyebab Utama Gen Z Dipecat
Menurut Kepala Penasihat di Intelligent, Huy Nguyen, ada perbedaan besar antara dunia akademik dan dunia kerja yang sering kali sulit dijembatani oleh lulusan baru.
Struktur kerja yang ketat, budaya organisasi, serta ekspektasi untuk bekerja secara mandiri menjadi tantangan yang tidak sedikit bagi generasi ini.
Berikut adalah 10 alasan utama perusahaan memecat Gen Z:
1. Kurangnya motivasi atau inisiatif (50%)
Banyak Gen Z dianggap kurang proaktif dalam mengambil langkah-langkah penting di tempat kerja.
2. Kurangnya profesionalisme (46%)
Beberapa perusahaan melaporkan bahwa Gen Z sering menunjukkan sikap yang kurang sesuai dengan norma profesional.
3. Keterampilan organisasi yang buruk (42%)
Ketidakmampuan untuk mengatur prioritas dan tugas menjadi salah satu kelemahan terbesar.
4. Keterampilan komunikasi yang buruk (39%)
Generasi ini kerap kesulitan berkomunikasi secara efektif, baik lisan maupun tertulis.
5. Tantangan dalam menerima umpan balik (38%)
Beberapa Gen Z sulit menerima kritik membangun, sehingga menghambat pertumbuhan mereka.
6. Kurangnya pengalaman yang relevan (38%)
Minimnya pengalaman praktik selama pendidikan membuat banyak dari mereka tidak siap menghadapi realitas kerja.
7. Keterampilan pemecahan masalah yang buruk (34%)
Generasi ini dinilai kurang mampu berpikir kritis dan mencari solusi atas masalah yang kompleks.
8. Keterampilan teknis yang tidak memadai (31%)
Kurangnya pemahaman mendalam terhadap teknologi yang dibutuhkan di tempat kerja menjadi hambatan.
9. Tidak cocok dengan budaya perusahaan (31%)
Ketidaksesuaian dengan nilai dan etos kerja perusahaan sering menjadi faktor penentu.
10. Kesulitan bekerja dalam tim (30%) Beberapa Gen Z lebih nyaman bekerja secara individu dibandingkan berkolaborasi dalam tim.
Lulusan baru sering kali belum siap menghadapi ekspektasi tinggi di tempat kerja. Dunia akademik yang lebih terstruktur dan didukung oleh sistem penilaian jelas berbeda dengan dinamika dunia kerja yang menuntut kreativitas, inisiatif, dan ketahanan mental.
Agar bisa bersaing di pasar kerja, Gen Z tampaknya perlu meningkatkan keterampilan komunikasi, pengelolaan waktu, serta kemampuan beradaptasi dengan budaya perusahaan. Selain itu, membiasakan diri menerima kritik dan mengasah keterampilan teknis akan membantu mereka berkembang lebih baik. (fyi/ian)






