Jember (beritajatim.com) – Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Jember memperoleh tugas dari pemerintah untuk melakukan survei investigasi dan desain optimasi lahan non rawa tehadap 10.640 hektare lahan pertanian di Kabupaten Jember, Lumajang, dan Banyuwangi, Jawa Timur.
Tujuan program ini adalah swasembada pangan, khususnya padi. “Banyak sekali lahan pertanian akibat kekurangan air yang menuju ke lahan tersebut, produktivitasnya itu turun,” kata Banun Kusumawardani Koordinator Pusat Lingkungan Hidup dan Kebencanaan LPPM Unej, Rabu (6/5/2026).
Unej juga mengevaluasi kelembagaan dan kondisi sosial ekonomi kelompok tani. “Kemudian berikutnya kami menginvestigasi ke lapang kondisi lahannya, kondisi tanah dan sistem irigasi,” kata Banun.
Lahan yang diinvestigasi bukan bagian dari lahan hutan, hak guna usaha, dan lahan yang pernah ditanami komoditas perkebunan dan hortikultura.
“Pembangunan ini utamanya adalah untuk meningkatkan indeks pertanaman,” kata Banun. Harapannya dengan program ini, Indeks Pertanamaman Optimasi bisa naik dari di bawah 2 menjadi 2,2.
Dari hasil investigasi Unej ditemukan adanya kerusakan dan pendangkalan saluran irigasi tersier. “Sehingga petani yang seharusnya bisa tanam dua kali atau tiga kali menjadi tidak bisa. Mereka mengubah komoditas menjadi cabe dan sayuran. Atau ke tebu,” kata Banun.
Ada 240 kelompok tani (poktan) di Jember yang memperoleh bantuan. Nantinya keompok petani sendiri yang akan membangun konstruksi optimasi saluran irigasi tersier. Pembiayaan konstruksi sebesar Rp 4,6 juta per hektare.
“Jika tidak ada sumber air, maka kami bisa merekomendasikan adanya irigasi perpompaan. Kami buatkan desainnya dan RAB (Rencana Anggaram Biaya) sesuai dengan pagu anggaran. Jadi setiap poktan itu memiliki luasan yang berbeda-beda,” kata Banun. .
Unej mengerjakan semua laporan pada 10 Mei 2026. “Pekerjaan konstruksi oleh kelompok tani, dengan model swakelola tipet empat yang tidak boleh melibatkan pihak ketiga,” kata Banun. Diperkirakan pekerjaan sudah mulai berjalan pada Juni dan Juli. Pengawasan setiap tahap dilaksanakan tim dari Kementerian Pertanian.
Program ini dilangsungkan jelang masuknya musim kemarau panjang akibat badai El Nino Godzilla. El Nino Godzilla adalah El Nino dengan intensitas sangat kuat, yang ditandai dengan pemanasan suhu permukaan laut ekstrem di Samudra Pasifik tengah-timur, yang memicu kemarau panjang, peningkatan risiko kebakaran hutan, dan krisis kekeringan.
Banun mengatakan, Unej sudah melaksanakan program ini selama dua tahun berturut-turut. Dan dia gembira tahun lalu program ini berhasil membantu kelompok tani di kawasan Kecamatan Gumukmas yang susah bercocok tanam padi karena tingginya salinitas lahan akibat intrusi air laut.
“Bertahun-tahun lahan di sana tidak ditanami padi. Bahkan muncul (benturan) kepentingan pihak petani dan pihak petambak. Kami buatkan desain, bahkan dibuatkan pintu saluran, dan laporan yang kemarin kami terima, sekarang petani sudah bisa menanam padi dan sudah panen,” kata Banun.
Sementara itu, Solehan, anggota Kelompok Tani Harapan Jaya di Desa Jatisari, Kecamatan Jenggawah, berharap bisa menanam padi tiga kali dalam semusim setelah mendapatkan bantuan. “Mudah-mudahan dengan bisa tiga kali menanam padi, kondisi ekonomi bagus,” katanya.
Kelompok tani Harapan Jaya beranggotakan 30 orang petani. Mereka selama ini memproduksi padi di atas delapan ton per hektare. “Kalau yang hybrid bisa 10 sampai 11 ton kemarin,” kata Solehan. [wir/but]






