Hukum & Kriminal

Begini Nasib Lelaki Cabul Sedati yang Perkosa Anak Kandung

Sidoarjo (beritajatim.com) – Muslimin (39) bapak cabul asal Sedati yang tega menyetubui anak kandungnya selama 2017 sampai 2019 divonis 18 tahun penjara oleh Majlis Hakim PN Sidoarjo, Kamis (23/1/2020).

Selain hukuman pokok, bapak biadab itu juga dituntut membayar denda sebesar Rp 500 juta. Jika denda tak dibayar, diganti kurungan penjara selama 6 bulan.

Putusan yang dijatuhkan majelis hakim yang diketuai Eni Sri Rahayu itu lebih tinggi tiga tahun dari tuntutan JPU Kejari Sidoarjo yang menuntut selama 15 tahun penjara, denda Rp 500 juta, subsider 6 bulan kurungan.

Majelis hakim maupun jaksa sepakat bahwa perbuatan terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan sebagaiama diatur dalam pasal 81 ayat 3 Undang-undang nomor : 35 tahun 2014 tentang perubahan Undang-undang nomor : 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, Jo pasal 64 ayat 1 KUHP.

“Perbuatan terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan sebagaimana dalam dakwaan primer penuntut umum,” ucap Eni Sri Rahayu ketika membacakan amar putusan yang digelar terbuka di ruang sidang Sari.

Dalam amar putusan terungkap bahwa terdakwa memaksa korban agar melayani nafsu bejatnya mulai sekitar tahun 2017 lalu. Ketika itu, korban masih duduk di bangku kelas IX SMP. Sehingga putusan hakim lebih tinggi dari tuntutan.

Korban dipaksa terdakwa ketika kondisi rumah sedang sepi setiap hari Jumat, ketika korban sedang libur sekolah. Sedangkan, istrinya yang juga ibu korban sudah berangkat kerja sejak pukul 05.00 hingga 15.00 WIB.

“Bila korban tidak mau menuruti semua kemauannya untuk diajak berhubungan akan tidak memberi uang saku dan akan membunuh ibu dan adiknya,” jelas Eni.

Karena ketakutan atas ancaman terdakwa itulah, korban terpaksa menuruti semua kemauan terdakwa. Ironisnya, terdakwa memaksa korban melayani nafsu bejatnya setiap hari Jum’at pagi ketika korban sedang libur sekolah dan kondisi rumah sedang sepi.

“Terdakwa tidak ada penyesalan dan berulang-ulang melakukan perbuatan itu,” ungkap Eni.

Selain itu, dalam fakta persidangan juga mengungkap bahwa terdakwa menjalankan aksi bejat terhadap korban itu selama tiga tahun tanpa diketahui oleh ibu maupun keluarga korban lainnya. Korban sempat hamil, namun terdakwa minta digugukan.

Aksi kejam terdakwa masih terus dilakukan hingga baru terbongkar 24 Juli 2019 lalu ketika di tempat sekolahnya sedang ada tes urine. Ketika dites korban dinyatakan positif hamil.

Korban akhirnya mengaku ketika pihak sekolah mendesaknya. Korban mengaku selama ini dipaksa bapaknya untuk melayani nafsu dan kasusnya dilaporkan ke kepolisian, lalu ibu korban serta keluarganya. “Perbuatan terdakwa yang memberatkan telah merusak masa depan korban,” lanjut Eni.

Atas vonis tersebut terdakwa langsung menerima putusan tersebut. “Terima,” ucap terdakwa lirih. Sementara, Jaksa Penuntut Umum juga menerima putusan tersebut. “Kami terima,” ucap Rochida Alimartin, JPU Kejari Sidoarjo. [isa/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar