Jombang (beritajatim.com) – Di balik geliat pariwisata edukatif dan ekologis yang tengah berkembang pesat di Wonosalam, Jombang, berdirilah sosok inspiratif bernama Yusron Aminulloh.
Pria kelahiran Desa Mentoro, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang, 61 tahun silam ini, menjadi motor penggerak terwujudnya DeDurian Park—ikon eco-eduwisata yang kini menjadi rujukan nasional dalam pengembangan wisata berbasis pendidikan dan riset.
DeDurian Park terletak di Dusun Segunung, Desa Carangwulung, Kecamatan Wonosalam. Berdiri di atas lahan seluas enam hektar, kawasan ini tidak sekadar menjadi destinasi wisata alam dengan latar indah Pegunungan Anjasmoro, tetapi juga berkembang menjadi pusat kegiatan edukatif, pelatihan, hingga riset. Mulai dari kampus alam, outbond, seminar, hingga program Merdeka Belajar.
Awalnya, Yusron bukan berasal dari dunia pariwisata. Ia mengawali perjalanan hidupnya dari dunia tulis-menulis.
Namun, dorongan untuk kembali ke desa, hidup selaras dengan alam, dan membangun kampung halaman menjadi semangat utama yang mendorongnya melakukan lompatan besar.
“Pulang ke desa bukan masa lalu. Tapi desa adalah masa depan,” begitu filosofi hidup yang terus dipegangnya.
Dengan modal awal Rp325 juta, Yusron mendirikan DeDurian Park pada awal 2019. Dalam waktu empat tahun, bisnis ini tumbuh luar biasa. Saat menginjak usia tiga tahun, omzet dan aset DeDurian Park telah mencapai Rp32 miliar.
Tak hanya berdiri sebagai entitas bisnis, DeDurian Park juga membentuk jejaring kemitraan dengan 112 lembaga pendidikan dan instansi, mulai dari universitas, kementerian, BUMN, hingga sekolah-sekolah.
Kini, DeDurian Park dikenal sebagai pelopor edu-wisata dan kebun riset. Pada tahun 2023, Universitas Airlangga (Unair) mengirimkan 20 mahasiswanya untuk mengikuti program Merdeka Belajar selama enam bulan di kampus alam ini.
Masih di tahun yang sama, 19 mahasiswa Biologi Unair juga melakukan riset lanjutan yang hasilnya dipresentasikan di hadapan para akademisi dan pengelola DeDurian Park.
Tak hanya dari Unair, tim riset dari Telkom Pusat dan ITTS Surabaya juga pernah terlibat aktif dalam proyek digitalisasi pohon di kawasan ini, yang berlangsung sepanjang tahun 2022–2023. Hal ini membuktikan bahwa ekosistem yang dibangun Yusron telah menjadi magnet bagi inovasi dan kolaborasi lintas sektor.
Kini, atas dedikasinya dalam membangun dan mengembangkan pariwisata berbasis pendidikan dan pemberdayaan masyarakat, Yusron Aminulloh dinobatkan sebagai penerima beritajatim awards di bidang pemberdayaan ekonomi – Tokoh Penggerak Eco Eduwisata. Ia tidak hanya membangun tempat wisata, tetapi juga menanamkan harapan dan masa depan di tanah kelahirannya. (ted)






