Bojonegoro (beritajatim.com) – Master MEPTraining Yusron Aminulloh menjadi pembicara dalam Gebyar PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), Dinas Pendidikan Kabupaten Bojonegoro, Kamis (13/10/2022). Yusron memberikan pesan panjang lebar. Menyampaikan kalimat tentang kebaikan.
“Ribuan kata dan kalimat kita tentang kebaikan, tentang toleransi, persahabatan yang kita tanamkan pada anak kita, menjadi tidak berarti, karena rekaman anak kita berbeda dengan apa yang dia dengarkan,” ujar Yusron.
“Kecerdasan audio dan visual anak kita, jauh lebih mampu menangkap apa yang ia lihat dari perilaku orangtuanya, daripada apa yang ia ucapkan,” lanjut Yusron Aminulloh, Master MEPTraining dalam acara Gebyar Paud, Dinas Pendidikan Kabupaten Bojonegoro, Kamis (13/10/2022).
[berita-terkait number=”3″ tag=”paud”]
Itulah kenapa, tegas Yusron, zaman berubah. Kalau zaman kecil dulu, anak sangat takut sama orangtua, tetapi zaman digital ini, orangtualah yang takut sama anak. “Kenapa sebabnya? Para analis perilaku sering hanya menyebut satu dimensi, bahwa anak-anak sekarang cerdas karena gizi dan perkembangan zaman,” tambahnya.
Yusron yang juga CEO DeDurian Park ini menganalisis, sebenarnya yang paling utama kenapa orangtua sekarang kalah sama anaknya, karena orangtua dulu banyak lebih menunjukkan tauladannya, dan sedikit bicara. “Sedangkan orangtua sekarang banyak bicara sedikit tauladan. Kewibawaan menjadi menurun karena menurunnya tauladan,” tegasnya.
Yusron yang juga pengusaha property dan rencana “kembali” menjadi trainer setelah “istirahat” 4 tahun karena kesibukanya. Yusron melanjutkan analisanya “Banyak diantara kita para orang tua, apalagi memiliki anak balita, seringkali tanpa sadar menganggap anak kita masih kecil, masih belum mengerti apa-apa.”
Sehingga, tanpa sadar, menanam sejumlah keburukan kedalam aliran darah, nafas dan energi anak, lewat perilaku yang kita lakukan, yang kita anggap anak kita, tidak mengerti. “Bisa lewat nada bicara, nada suara saat memanggil, lewat dialog suami istri di depan anak, lewat pembicaraan kita dengan sesama orang dewasa (ngomongin orang, mengecam perilaku kawan, dan ragam lainnya), yang diam-diam itu adalah ‘pertunjukkan teater’, bahkan film yang diam-diam direkam anak kita,” urainya. [suf]







