Surabaya (beritajatim.com) – Melalui Program Risk Communication and Community Engagement (RCCE) Yayasan PLATO dengan dukungan Unicef menyelenggarakan kegiatan Youth Group Workshop untuk meningkatkan kapasitas dan kepedulian komunitas remaja tentang isu Manajemen Kebersihan Menstruasi (MKM) dan kesehatan reproduksi melalui kampanye Oky, aplikasi pelacak menstruasi pertama di dunia untuk remaja perempuan.
“Oky memberikan informasi menstruasi dan kesehatan reproduksi yang kreatif dan menyenangkan agar perempuan bersih, sehat dan percaya diri (Berseri) saat menstruasi lewat ponsel pintar,” kata Direktur Yayasan PLATO, Dita Amalia melalui keterangan tertulisnya, Senin (17/10/2022).
Dita mengatakan kegiatan ini dilatarbelakangi adanya hambatan akses terhadap informasi kesehatan reproduksi, termasuk MKM bagi remaja putri. Sehingga banyak sekali miskonsepsi dengan beredarnya mitos mengenai menstruasi di tengah masyarakat.
“MKM merupakan pengelolaan kebersihan dan kesehatan pada saat perempuan mengalami menstruasi yang merupakan bagian dari kesehatan reproduksi,” ujar Dita.
Dita menambahkan, rendahnya MKM pada remaja putri dapat mengancam terjadinya masalah kesehatan reproduksi yang lebih luas, termasuk rentan mengalami infeksi saluran reproduksi dan bahkan peningkatan risiko kanker serviks.
Menurutnya, tantangan tersebut membutuhkan keterlibatan remaja untuk menuangkan ide, gagasan maupun rencana aksi yang terorganisir untuk mengoptimalkan Komunikasi, Informasi, Edukasi (KIE) mengenai MKM dan kesehatan reproduksi pada remaja lainnya.
“Melalui kegiatan ini saya berharap dapat terbangun koordinasi dengan komunitas remaja untuk memperkuat kolaborasi dalam rangka memperluas jangkauan remaja perempuan untuk mengunduh dan menggunakan Oky,” katanya.
[berita-terkait number=”5″ tag=”workshop”]
Sementara itu, Social and Behaviour Change Officer UNICEF Surabaya Emeralda Aisha mengatakan tantangan MKM pada remaja dan Oky merupakan salah satu jawaban dari tantangan tersebut.
Apalagi, menurut jejak pendapat UNICEF menemukan 1 dari 5 perempuan muda melaporkan pembatasan mobilitas serta harga sebagai hambatan untuk mengakses pembalut, dengan 1 dari 10 remaja putri menunjukkan meningkatnya rasa malu dalam mengelola menstruasi.
“Survey yang dilakukan oleh UNICEF menunjukkan bahwa 11% anak tidak mau bersekolah saat menstruasi karena diejek oleh teman-teman laki-laki,” kata Aisha.
Aisha juga mengajak untuk melihat ragam tantangan yang ada di masyarakat salah satunya terkait misinformasi seputar menstruasi. Menurutnya, dibutuhkan strategi komunikasi, salah satunya melalui teknik komunikasi antar pribadi untuk meluruskan mitos yang berkembang seputar menstruasi.
“Dari sini kita bisa menilai pentingnya aplikasi OKY sebagai salah satu tools yang dapat menjadi sumber rujukan terpercaya untuk mendapatkan edukasi seputar menstruasi dan kesehatan reproduksi,” papar Aisha.
Dita Amalia pun mengajak membangun pemahaman bersama tentang MKM dan Kesehatan Reproduksi Remaja dengan tepat. Menurutnya remaja punya peran strategis untuk mengkampanyekannya baik secara langsung maupun melalui media sosial.
“Remaja punya kemampuan untuk berepran sebagai agen perubahan, saya yakin teman-teman mampu menjadi garda terdepan untuk memperluas akses remaja untuk mendapatkan informasi dan edukasi mengenai MKM dan Kesehatan Reproduksi di Jawa Timur,” tegasnya.
Setelah peserta mendapatkan penguatan pemahaman seputar MKM, kesehatan reproduksi dan aplikasi OKY, mereka kemudian dilibatkan untuk menyuarakan pendapat dan ide-ide melalui diskusi kelompok. Tema diskusi yang diusung adalah tantangan dan strategi komunikasi baik melalui offline maupun online.
“Gerakan menyuarakan pesan harus masif ke komunitas remaja ditataran paling bawah, juga lewat media sosial, seperti IG, tiktok dengan influencer dan dengan kemasan bahasa jawa timuran,” seru salah satu peserta dari Mitra Muda Alif.
Kemudian dilanjutkan dengan penyusunan rencana aksi sebagai keberlanjutan dari workshop ini. Kampanye ke sekolah dan komunitas, membuat konten kreatif dan menyebarkan media KIE lewat berbagai ragam media menjadi salah satu rencana aksi yang akan diimplementasikan oleh peserta.
Serangkaian kegiatan Youth Group Workshop diakhiri dengan closing statement dari Kepala Kantor Perwakilan UNICEF Wilayah Jawa, Tubagus Arie Rukmantara. Dia menegaskan remaja adalah agen perubahan dan pemimpin masa depan, aksinya hari ini sebagai penentu nasib bangsa ke depan.
”Sebagai agen perubahan, tidak cukup hanya mendorong remaja perempuan untuk download Oky, akan tetapi tantangannya adalah bagaimana mereka bisa menggunakan Oky dalam keseharian sehingga sehat, nyaman dan percaya diri saat menstruasi,” pungkas Arie.[asg/kun]






