Kediri (beritajatim.com) – Pertandingan antara Persik Kediri dan Persis Solo di Stadion Brawijaya Kediri pada Jumat malam (14/2/2025) sempat terhenti sejenak pada menit ke-87 akibat padamnya lampu stadion.
Hanya layar papan LED yang tetap menyala, sementara suporter menyalakan lampu flash dari tempat duduk mereka.
Insiden ini memicu berbagai reaksi dari para penonton yang mengungkapkan kekecewaannya melalui media sosial. Dalam unggahan di grup Facebook DJAYATI PERSIK KEDIRI, sejumlah suporter menyindir fasilitas stadion yang dinilai tidak sebanding dengan harga tiket.
Yel-Yel Sindiran Penonton
Beberapa penonton meneriakkan yel-yel sindiran yang berbunyi:
“Tiket 100 ewu Randue kursi Lingguh lesehan Lampune mati”
Komentar pedas pun bermunculan dari netizen. Johan Arief menuliskan, “Tiket 100 ewu gak lungguh kursi, lampune mati, zona degradasi.”
Sementara Djajati Ramadani menyarankan agar insiden ini dilaporkan ke situs resmi Pemkot Kediri, dengan menyatakan, “Di kirim nang situs Pemkot Kediri ae. Biar mereka tahu Brawijaya sudah tua.”
Penjelasan Panpel Persik Kediri
Ketua Panitia Pelaksana (Panpel) Persik Kediri, Tri Widodo, memastikan bahwa pihaknya selalu bekerja sama dengan PLN untuk memastikan kelancaran suplai listrik selama pertandingan.
“Kita selalu bekerjasama dengan PLN. Ada empat petugas PLN yang jaga travo besar dan jaga di stadion. Setelah konfirmasi tadi, penyebab kematian adalah MCCB-nya terlepas,” ujar Tri Widodo.
“Sebetulnya 2 menit sudah tersambung. Cuma lampunya itu konvensional, bukan lampu LED. Butuh waktu maksimal 10 menit. Begitu MCCB-nya ditancapkan lagi, menyala, tetapi butuh waktu sampai 11 menit baru normal semua. Itu saja. Cepat tadi penanganannya. 2 Menit langsung menyala. Kalau lampunya LED, 2 menit langsung menyala,” tambah pria yang akrab disapa Widodo Hunter ini.
Dugaan Penyebab Padamnya Lampu Stadion
Terkait penyebab terlepasnya MCCB (Molded Case Circuit Breaker), PLN menyampaikan kepada Panpel Persik Kediri bahwa hal tersebut bisa terjadi karena daya yang terlalu berlebih atau adanya tindakan disengaja.
“Lepas, karena dayanya mungkin terlalu over, atau dilepas karena disengaja, begitu penyampaian PLN. Untuk melepas itu gampang, tinggal dinaikkan sudah padam. Tadi ngecek kesana juga,” imbuhnya.
Saat ditanya apakah PLN mencurigai MCCB sengaja dilepas, Tri Widodo menyatakan bahwa hal itu mungkin terjadi akibat beban listrik yang terlalu berat.
“Ada sengaja dilepas, mungkin bebannya berat, panas akhirnya lepas. Tetapi selama ini belum pernah lepas. Jadi baru kali ini lepas sejak tahun 2004, baru tahun 2025 ini lepas MCCB ini. Untuk penyulangnya ini sekarang kan dua, dulu kan hanya satu penyulang. Kalau padam ini, harus dicari. Ini penyulangnya dua, kalau padam satu masih ada satu,” jelasnya.
MCCB sendiri merupakan jenis circuit breaker yang umum digunakan untuk listrik bertegangan rendah. Alat ini berfungsi mengendalikan arus listrik dalam rentang 600 hingga 2.500 Ampere dengan tingkat gangguan hingga 150 kA.
Proses penyalaan kembali lampu stadion memakan waktu cukup lama sebelum laga dapat dilanjutkan. Insiden ini menimbulkan banyak reaksi dari berbagai pihak, termasuk para suporter yang merasa kecewa dengan gangguan teknis tersebut.
Pertandingan antara Persik Kediri dan Persis Solo di Stadion Brawijaya Kediri berakhir dengan skor imbang tanpa gol. Laga tersebut dihadiri oleh suporter kedua kesebelasan. [nm/ted]






