Malang (beritajatim.com) – Bel tanda berakhirnya jam pelajaran baru saja bergema di lorong SMP Laboratorium Universitas Negeri Malang (UM). Suara siswa yang berebut keluar kelas memecah keheningan siang itu. Di balik meja guru seorang pria tampak asik membawa setumpuk buku bacaan.
Bagi ratusan siswa di sekolah itu, ia adalah Pak Yohan, guru Bahasa Indonesia yang kadang bersitegang dengan siswa membicarakan satu dua puisi, kadang ia juga menyodorkan satu dua bacaan pada muka belia di kelas. Namun, dunia luar mengenalnya dengan wajah yang berbeda.
Yohan Fikri Mu’tashim adalah ‘binatang jalang’ dalam panggung sastra Indonesia mutakhir, penyair yang gelisah, kritikus, sekaligus ‘bisa disebut’ intelektual tradisional yang cukup bebal. Tahun 2025 menjadi saksi bagi Yohan, seorang guru sekolah menengah, untuk menaklukkan panggung sastra nasional. Dalam rentang waktu kurang dari satu bulan, tepatnya Oktober lalu, Yohan mencetak hat-trick penghargaan yang membuat namanya diperbincangkan di kalangan sastrawan dan akademisi.
Ia tak sekadar mengajar. Ia membuktikan bahwa dari ruang kelas, kesunyian kreatif tetap bisa dirawat. Ini adalah cerita tentang bagaimana seorang pendidik menolak menyerah pada rutinitas birokrasi, menjadikan kata-kata sebagai senjata untuk melawan banalitas zaman.
Oktober yang Panen
Jika ada bulan yang layak disebut sebagai puncak musim panen bagi karier kepenulisan Yohan, itu adalah Oktober 2025. Seperti petani yang menanam benih dalam diam selama bertahun-tahun, buah kerja keras itu matang secara bersamaan.
Pada 15 Oktober, Balai Bahasa Jawa Timur menyematkan Anugerah Sutasoma untuk kategori karya sastra Indonesia kepadanya. Buku puisi debutnya, Anjing-Anjing Lepas Amarah, dinilai memiliki kekuatan ungkap yang segar. Tak berhenti di sana, dua pekan berselang, tepatnya 29 Oktober, buku yang sama diganjar Penghargaan Sastra Kemendikdasmen 2025 untuk kategori kumpulan puisi.
Namun, yang membuat profil Yohan unik adalah ambivalensinya. Ia bukan hanya peraya kata-kata lewat puisi, tapi juga pembedah makna lewat kritik sastra. Di sela-sela dua penghargaan puisi itu, pada 19 Oktober, esainya yang berjudul Kecamuk Citra, Kiamat Bentuk: Telisik Puitika “Paus Merah Jambu” Zen Hae dinobatkan sebagai Naskah Terbaik IV dalam Lomba Kritik Sastra Piala H.B. Jassin.
“Saya tidak memasang target atau ambisi besar. Yang saya lakukan hanya mengerjakan sesuatu sebaik mungkin dan memberi ruang bagi disiplin untuk bekerja perlahan,” ujar Yohan saat ditemui di sela aktivitas, Selasa (25/11/2025).
Penghargaan-penghargaan itu, bagi Yohan, bukanlah sebuah puncak. Ia menyebutnya sebagai penegasan. Sinyal bahwa jalan sunyi yang ia pilih membagi diri antara mendidik anak manusia dan mengasuh kata-kata, bukan suata kesia-siaan.
Luka Bakar di Jari Ayah, Puisi di Tangan Yohan
Yohan tidak lahir dari kekosongan. Kecintaannya pada aksara adalah warisan genetik dan kultural yang mengalir deras dari sang ayah. Dalam ingatan masa kecilnya, rumah adalah perpustakaan mini di mana aroma kertas tua bercampur dengan asap rokok kretek.
Ada satu fragmen yang tak pernah hilang dari memori Yohan, sebuah kejadian yang kelak ia sadari sebagai metafora dedikasi terhadap ilmu. Suatu siang, ia melihat ayahnya tertidur di kursi rotan panjang. Wajah sang ayah tertelungkup di bawah kitab kuning yang sedang dibacanya. Di sela jari tangan sang ayah, sebatang rokok masih menyala. “Tiba-tiba beliau terperanjat. Rokok itu habis dan apinya menyundut pangkal telunjuknya,” kenang Yohan.
Reaksi sang ayah sungguh di luar nalar kanak-kanak Yohan. Alih-alih panik mencari obat luka atau mengaduh kesakitan, sang ayah justru tenang. Ia meraih cangkir kopi di meja, menyesapnya pelan, menyulut batang rokok baru, dan kembali tenggelam dalam halaman-halaman kitab. Luka bakar itu diabaikan demi kenikmatan membaca.
“Saya kira, seorang anak ialah peniru ulung,” kata Yohan. Pemandangan itu menanamkan doktrin bawah sadar: membaca adalah aktivitas yang sakral, bahkan lebih penting dari rasa sakit fisik.
Ayahnya adalah seorang pembaca yang tekun, mulai dari kitab kuning untuk mengajar santri hingga majalah-majalah Islam yang memuat cerita hikmah. Yohan kecil tumbuh dengan pesta kecil berupa kunjungan ke toko buku. Di sana, ia diberi kebebasan untuk memilih bacaan.
Ketika ia dikirim ke pesantren, di mana gawai dan teknologi digital dilarang keras, benih literasi itu menemukan tanah subur. Tanpa distraksi layar, menulis menjadi satu-satunya cara untuk bertualang.
“Menulis menjadi cara mengatasi sepi yang sehat,” ungkapnya. Di pesantren itulah, ia mulai mencoret-coret apa saja. Kutipan, keluhan, doa, hingga kalimat-kalimat abstrak yang ia sendiri tak tahu akan bermuara ke mana. Pesantren menjadi kawah pertama yang menempa Yohan sebelum ia mengenal teori-teori sastra yang rumit di bangku kuliah.
Ritual 15 Menit di Antara Malang dan Blitar
Menjadi guru di era modern bukanlah pekerjaan ringan. Tumpukan administrasi, tuntutan kurikulum, hingga dinamika psikologis siswa seringkali menguras energi. Banyak penulis yang mati kreativitasnya begitu masuk ke dalam sistem birokrasi sekolah. Namun, Yohan menolak pola itu.
Ia menjalani ritme hidup yang nyaris mekanis namun penuh disiplin. Hampir setiap pekan, ia menempuh perjalanan antarkota Malang-Blitar. Senin sampai Jumat didedikasikan untuk mengajar.
Lantas, kapan waktu untuk menulis? “Misalkan saya hanya punya waktu 15 menit setelah mengoreksi tumpukan tugas, 15 menit itu cukup,” tegasnya.
Dalam jeda waktu yang sempit itu, di ruang guru yang mulai sepi atau di sela waktu istirahat, Yohan membaca satu atau dua paragraf buku berat, menulis beberapa baris puisi, atau sekadar mencatat ide liar di catatan ponselnya. Ia tidak menunggu ilham datang dengan megah. Ia menjemputnya dalam remah-remah waktu.
Filosofi urip sakmiline banyu (hidup mengalir seperti air) yang dipegangnya bukan berarti pasrah tanpa usaha. Justru, ia mengalir dengan kekuatan arus yang konsisten. Bagi Yohan, mengajar dan menulis adalah dua kutub yang saling menjaga kewarasannya.
“Mengajar menjaga agar saya tetap membumi, bertemu dengan realitas manusia. Menulis menjaga saya agar tetap bermimpi,” ujarnya. Jika mengajar adalah tentang memberi jawaban, maka menulis, baginya, adalah tentang merayakan pertanyaan.
Pertarungan Batin: Penyair vs Kritikus
Dalam jagat sastra Indonesia, jarang ditemukan sosok yang piawai bermain di dua kaki: sebagai penyair yang emosional dan kritikus yang rasional. Biasanya, seorang kritikus gagal menjadi penyair yang baik karena terlalu banyak berpikir, atau penyair gagal menjadi kritikus karena terlalu perasa.
Yohan menyadari bahaya itu. Di kepalanya, sering terjadi perang saudara. Saat ia menulis puisi, suara kritikus dalam dirinya kerap muncul tanpa diundang. “Ini klise,” bisik suara itu. “Ini terlalu sentimental. Ini cengeng.”
Awalnya, suara itu mengganggu. Interupsi nalar kritis kerap membunuh benih puisi yang baru tumbuh. Yohan mengaku sempat gentar. Ia teringat obrolannya dengan Nirwan Dewanto, sastrawan terkemuka Indonesia.
Nirwan menyebut bahwa penyair besar dunia seperti T.S. Eliot, Octavio Paz, hingga Paul Valery juga mengalami ketakutan serupa. Mereka gentar menulis puisi setelah tajam menulis kritik.
Namun, Yohan belajar berdamai. Ia menunda penghakiman.
“Kritik yang terlalu dini akan membunuh kemungkinan,” katanya. Ia membiarkan puisinya mengalir mencari bentuknya sendiri, baru kemudian pisau bedah kritiknya bekerja merapikan.
Sebaliknya, saat menulis kritik,.seperti esainya tentang Zen Hae yang memenangkan Piala H.B. Jassin, jiwa penyairnya justru menjadi penyelamat. Suara penyair menjaga agar tulisan kritiknya tidak kering kerontang layaknya makalah akademis yang membosankan.
“Kritik yang baik justru lahir dari kemampuan mendengarkan irama batin bahasa. Penyair punya telinga yang lebih akrab pada irama itu,” jelasnya. Baginya, kritik sastra juga adalah bentuk literer. Ia menolak anggapan bahwa kritik hanyalah parasit bagi karya sastra. Kritik adalah karya seni tersendiri yang menuntut kejujuran dan ketelitian kerja tangan.
Melawan Arus Algoritma
Tantangan terbesar Yohan hari ini bukan lagi soal membagi waktu, melainkan menghadapi zaman di mana ia mendidik. Ia mengajar Generasi Z dan Generasi Alpha, anak-anak yang lahir dengan gawai di tangan, yang terbiasa dengan durasi video 15 detik di TikTok.
“Murid-murid sekarang hidup dalam ritme yang cepat,” keluhnya, meski terselip nada empati. “Sementara sastra tidak pernah dibangun untuk kecepatan itu.”
Tugasnya sebagai guru Bahasa Indonesia bukan sekadar mengajarkan subjek-predikat, melainkan “mengembalikan kata pada keheningannya”. Di tengah banjir informasi dan kebisingan digital, Yohan mencoba mengajak murid-muridnya untuk berhenti sejenak, membaca perlahan, dan meresapi makna. Sebuah pekerjaan rumah yang mahaberat di era disrupsi atensi.
Namun, Yohan tidak menempatkan diri sebagai menara gading. Di rumah, ia adalah laki-laki biasa yang gemar memasak. Meski memiliki asisten rumah tangga, ia kerap turun ke dapur, meracik bumbu, dan menyajikan makanan untuk orang rumah.
Memasak, baginya, memiliki kesamaan dengan menulis: meramu bahan mentah menjadi sesuatu yang bisa dinikmati..Ia juga bukan intelektual yang memandang riset berat, teologi, filsafat, sejarah sebagai beban. Ia melahap buku-buku ‘berat’ itu selayaknya orang lain menikmati scrolling media sosial. Tanpa beban, tanpa pretensi.
Jalan Sunyi
Menjelang Hari Guru Nasional 2025, kisah Yohan Fikri Mu’tashim mematahkan stereotip bahwa guru adalah profesi yang statis, yang terjebak dalam zona nyaman kurikulum. Ia menunjukkan bahwa seorang guru bisa menjadi intelektual publik yang diperhitungkan.
Kini, setelah Anjing-Anjing Lepas Amarah mendapatkan tempatnya, Yohan tengah mempersiapkan buku kritik sastra debutnya yang dijadwalkan terbit tahun depan. Kegelisahan intelektualnya belum surut.
Ketika ditanya tentang arti kesuksesan setelah memborong berbagai penghargaan bergengsi, jawaban Yohan jauh dari kesan materialistis. Ia tidak berbicara tentang royalti, pangkat, atau sertifikasi guru. “Ketepatan,” jawabnya singkat.
Baginya, sukses adalah ketika sebuah karya lahir dari pergulatan yang tidak tergesa-gesa. Penghargaan hanyalah bonus, kembang gula di tengah perjalanan yang panjang. Ukuran sesungguhnya adalah kesetiaan pada rasa ingin tahu.
“Jika saya bisa terus menulis tanpa mengkhianati rasa ingin tahu saya sendiri, saya kira saya sudah sampai pada semacam keberhasilan yang paling mempribadi. Dan itu cukup,” pungkasnya Yohan, ditemani langit Malang selalu mendung, membawa hawa dingin yang begitu akrab. (dan/kun)






