Surabaya (beritajatim.com) — Panen perdana ikan nila hasil budidaya sistem aquaponik oleh Kelompok Tani Serpis Kebun Kita, Kecamatan Wonocolo, Surabaya, resmi digelar pada Selasa (2/12) di Taman Teman, Jl. Jemursari V. Kegiatan ini menjadi tonggak penting keberhasilan program hibah pemberdayaan perempuan yang diinisiasi tim dosen Petra Christian University (PCU) dengan dukungan Direct Aid Program (DAP) 2024/2025 dari Pemerintah Australia.
Panen perdana ini tidak hanya menandai keberhasilan teknologi Bio-RAS-ponic, tetapi juga menjadi bukti nyata bahwa perempuan dapat menjadi motor penggerak ekonomi lokal melalui inovasi pertanian dan perikanan berkelanjutan.
Program bertajuk “Pemberdayaan Perempuan di Kecamatan Wonocolo Melalui Budidaya & Pengolahan Ikan Nila dan Sayur Organik Dengan Recirculating Aquaculture System” ini digawangi oleh Hanjaya Siaputra (Ketua Tim – Hotel Management), Ekadewi Anggraini Handoyo (Anggota – Mechanical Engineering), dan Julius Sentosa Setiadji (Anggota – Electrical Engineering).
Ketiganya mendampingi ibu-ibu Kelompok Tani Serpis untuk mengembangkan kemampuan baru dalam pengoperasian aquaponik, pengolahan produk ikan dan sayuran, pembukuan sederhana, pemasaran digital, hingga manajemen batin untuk kesiapan mental dalam berwirausaha.
“Di balik kolam-kolam ikan yang menghasilkan nila berkualitas, berdiri semangat juang ibu-ibu Serpis. Inti program ini memang pemberdayaan perempuan, agar mereka memiliki kapasitas dan keberanian membangun usaha yang berkelanjutan,” ungkap Hanjaya.
Sejak 2018, Kelompok Tani Serpis fokus pada budidaya sayuran hidroponik. Melalui program ini, mereka kini “naik kelas” dengan teknologi aquaponik Bio-RAS-ponic, sistem resirkulasi air yang hemat energi, ramah lingkungan, dan menghasilkan ikan berkualitas tinggi, cepat besar, serta kaya omega 3 dan 6.
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, yang turut menghadiri panen perdana, menegaskan pentingnya pengembangan produksi ikan nila agar memiliki nilai ekonomi lebih luas.
“Saya mendapat laporan bahwa satu kolam mampu menampung 1.200 ikan nila. Sudah ada empat kolam diberikan. Saya berharap hasil panen tidak hanya dijual ke warga sekitar, tetapi juga masuk ke sektor industri seperti hotel. Ini bagian dari upaya kita menuju ekonomi padat karya,” ujar Eri.
Ia juga mengapresiasi kontribusi PCU yang konsisten menghadirkan inovasi bagi masyarakat.
“Pemkot tidak bisa bekerja sendiri. Kolaborasi dengan kampus menjadi kunci kemajuan. Kami berharap PCU terus mendampingi dan menjadikan kawasan ini sebagai wilayah binaan untuk pengembangan hidroponik dan aquaponik,” imbuhnya.
Adapun pada panen perdana ini, dilakukan lelang ikan nila dengan sistem penjualan per serok. Seluruh hasilnya akan masuk sebagai tambahan modal usaha Kelompok Tani Serpis, agar kegiatan budidaya semakin berkelanjutan.
Perwakilan kelompok, Retno Winarni, menyampaikan harapan agar ekosistem pendukung program dapat diperluas.
“Besar harapan kami untuk mendapat dukungan dari Pemkot Surabaya terkait izin edar, bibit, pemasaran, dan penyediaan lahan untuk replikasi proyek ini. Kami juga berharap mendapat dukungan dari Konjen Australia terkait pengembangan produk dan teknologi turunan,” harapnya. (fyi/but)






