Surabaya (beritajatim.com) – Steven Wijaksana, mahasiswa Departemen Aktuaria Fakultas Sains dan Analitika Data Institut Teknologi Sepuluh Nopember (FSAD ITS) Surabaya lulus dengan IPK nyaris sempurna yakni 3,98.
Keinginannya menjadi aktuaris membuat semangat belajarnya tinggi. Apalagi, Indonesia juga masih kekurangan aktuaris handal yang mampu menghitung serta mengelola risiko perusahaan asuransi. “Jika kita sudah memiliki sertifikasi dari Persatuan Aktuaris Indonesia, maka prospek gaji yang dijanjikan juga menggiurkan,” ujar Steven, Jumat (17/3/2023).
Di balik capaiannya itu, Steven rupanya menerapkan sejumlah cara dan motivasi untuk kesuksesan belajarnya. Ia lebih memilih belajar mandiri dibanding berkelompok. Selain itu, ia juga selalu mencari tempat tenang untuk belajar, karena hal itu membuatnya lebih mudah menyerap materi.
BACA JUGA:
Mensos Risma Dorong ITS Ciptakan Inovasi di Daerah Tertinggal
Tak hanya itu, Steven yang akan diwisuda Sabtu (18/3/2023) itu pun dikenal getol dalam menyusun target harian. Jika target-target itu terpenuhi, ia akan memberikan hadiah untuk diri sendiri atas pencapaiannya.
Tak hanya mengejar ilmu, pemuda kelahiran 24 Agustus 2001 ini juga membagikan ilmunya lewat mengajar paruh waktu. Lewat bisnis bimbingan belajar orangtuanya, Steven membagikan kepiawaiannya dalam berhitung dan memecahkan soal.
Di samping itu, Steven juga mengembangkan minat untuk berinvestasi di pasar saham. “Sejak duduk di bangku SMA, saya sudah diberi kesempatan menjadi mentor teman sebaya maupun adik tingkat untuk persiapan ujian,” ungkapnya.
BACA JUGA:
Mahasiswi ITS Ciptakan ‘Motion Comic’ untuk Suarakan Isu Sampah Makanan di Indonesia
Steven juga mengungkapkan, untuk mematangkan persiapan sebelum terjun di dunia kerja, ia telah menjalani kerja praktik sebagai data analyst di BPJS. Di situ, Steven mempelajari bagaimana bekerja mengolah data ke bentuk pivot table dan mengklasifikasikan hasil laporan.
Ia pun mendorong, ketimbang berfokus pada tujuan lebih baik fokus pada proses dan tetap konsisten. Sebab, menurutnya lebih baik fokus pada hal yang ingin dituju dibandingkan goals yang bersifat bias. “Konsistensi akan membawa perubahan yang signifikan dan janganlah takut untuk memulai,” tuturnya. [ipl/suf]






