Blitar (beritajatim.com) – Sejumlah daerah pesisir Kabupaten Blitar kini kekurangan dokter umum hingga spesialis. Sejauh ini para dokter terkonsentrasi di daerah perkotaan, sementara untuk daerah pesisir kondisi justru kekurangan.
Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Blitar, Dedy Ismiranto menjelaskan kondisi itu terjadi lantaran masih belum bagusnya distribusi dokter. Sehingga daerah daerah pelosok atau pesisir di Kabupaten Blitar kekurangan dokter.
“Sebetulnya kebutuhannya cukup ya kalau terdistribusi dengan bagus apalagi yang kota itu sekitar 240 anggota IDI tetapi banyak ngumpul di Kota berati distribusi aja yang belum merata sampai ke daerah daerah yang pelosok,” kata Dedy Ismiranto, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kabupaten Blitar, Jumat (25/10/2024).
Sebenarnya jumlah dokter umum dan spesialis di Blitar mencapai 257 orang. Jumlah tersebut sebenarnya sudah memenuhi kebutuhan dan sesuai dengan standar yang dikeluarkan oleh BPJS Kesehatan.
Namun yang jadi masalah adalah distribusinya. Dimana selama ini ada puluhan dokter yang terkonsentrasi di daerah perkotaan atau kecamatan yang cukup besar seperti Wlingi hingga Srengat.
Sementara untuk daerah pesisir seperti Kecamatan Wates hingga Bakung masih minim dokter umum maupun spesialis.
“Kita lihat dulu jumlah penduduk Kabupaten Blitar mencapai 1,3 juta kebutuhan dokter itu berapa sih ya antara 500 sampai 10 ribu BPJS itu kan mintanya 1 banding 5 ribu jadi kalau satu kabupaten artinya 1,3 juta dibagi 500 ketemunya 260-an,” imbuhnya.
Terkonsentrasinya dokter ini terjadi lantaran mengikuti segmentasi pasar. Dimana selama ini jumlah keluhan kesehatan di daerah perkotaan jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan pesisir atau pelosok. (owi/but)






