Lamongan (beritajatim.com) – Sebanyak 30 warga binaan pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas IIB Lamongan Kanwil Kemenkumham Jatim mengikuti pelatihan kemandirian pembuatan sabun cuci, di Aula Lapas setempat, Jumat (26/5/2023).
Pelatihan kemandirian ini dilakukan melalui Memorandum of Understanding (MoU) dengan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Lamongan, serta Gerai UMKM Kabupaten Lamongan.
Turut hadir dalam kegiatan ini di antaranya Kepala Lapas Lamongan, Mahrus beserta jajaran, Kepala Disnakertrans Kabupaten Lamongan beserta jajaran, Ketua Gerai UMKM Kabupaten Lamongan beserta tim dan Direktur CV. Bersama Kita Bisa.
BACA JUGA:
Lapas Lamongan Temukan Kabel Cas HP dan Domino saat Geledah Kamar Hunian
Dalam kesempatan ini, Kepala Lapas Lamongan, Mahrus menyampaikan bahwa kegiatan pelatihan ini merupakan wujud sinergitas antara Lapas Lamongan dengan dinas terkait guna membekali keterampilan bagi para WBP.
“Buah dari sinergitas ini pastinya akan berdampak positif bagi kemandirian WBP, yakni WBP dapat mempunyai skill atau keterampilan, salah satunya pembuatan sabun cuci,” ungkap Mahrus.
Mahrus juga menuturkan, melalui kegiatan pelatihan pembuatan sabun cuci, nantinya para WBP lebih memiliki peluang untuk membuka lapangan pekerjaan usai menjalani masa pidananya.
“Kekurangan adalah modal. Apa yang kurang, bisa kita penuhi, sehingga hal tersebut bisa menjadi modal atau peluang, salah satunya adalah pembuatan sabun cuci. Kami harap dengan diadakannya kegiatan ini, WBP memiliki keterampilan sehingga dapat hidup di tengah masyarakat setelah menjalani masa pidana,” paparnya.
BACA JUGA:
Lapas Lamongan Kolaborasikan Program dengan UMKM
Sementara itu Kepala Disnakertrans Kabupaten Lamongan, Agus Cahyono menjelaskan bahwa pelatihan ini menjadi salah satu kegiatan inovasi yang terus dikembangkan bagi para WBP. “Jangan dilihat dari sabunnya, tetapi bagaimana kita bisa mengembangkan sebuah sabun tersebut agar menjadi inovasi yang luar biasa bagi Lapas Lamongan,” ucap Agus.
Lebih lanjut, Agus menegaskan bahwa sebuah keterampilan perlu diiringi dengan adanya perubahan perilaku. Sehingga keterampilan itu bisa direalisasikan secara konkrit.
“Selain ketrampilan dan knowledge, yang paling utama adalah mampu mengubah perilaku menjadi lebih baik dan tidak terlalu sibuk memikirkan apa yang ada di luar. Harus fokus dan tunjukan keterampilan yang bisa dikembangkan itu melalui pembinaan yang ada di Lapas Lamongan,” tutupnya. [riq/suf]






