Blitar (beritajatim.com) – Selama 2 bulan terakhir, sebanyak 22 warga Blitar terkena penyakit chikungunya. Puluhan warga yang terjangkit penyakit chikungunya tersebut kini telah mendapatkan perawatan medis.
Terkait hal itu Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar mengimbau kepada seluruh masyarakat Blitar untuk lebih waspada terhadap serangan nyamuk chikungunya di musim hujan ini. Masyarakat Kabupaten Blitar pun diimbau untuk rutin melakukan pembersihan tempat-tempat air agar jentik nyamuk chikungunya tidak berkembang pesat dan menyerang warga.
“Kami meminta masyarakat membersihkan barang-barang di luar rumah yang bisa menjadi tempat tampungan air saat hujan agar tidak menjadi sarang nyamuk. Upaya pencegahannya dengan memberantas sarang nyamuk,” ujar Christine Indrawati, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar, Sabtu (28/12/2024).
Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar pun meminta agar masyarakat harus menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Pasalnya, fogging hanya membunuh nyamuk dewasa, sedangkan jentiknya masih tetap hidup.
Berdasarkan data milik Dinkes Kabupaten Blitar, sampai November 2024 ini ada 1.163 kasus DBD. Jumlah ini meningkat drastis dibandingkan pada 2023 lalu di bulan yang sama, yakni mencapai 328 kasus. Penyebab peningkatan kasus ini karena ada siklus 3 tahun dan 5 tahunan.
“Tahun ini mengalami siklus yang berulang itu. Penyakit DBD ini ada kaitannya dengan jentik dan nyamuk penular DBD. Di Kabupaten Blitar, pemberantasan sarang nyamuk (PSN) masih belum bisa optimal,” Imbuhnya.
Upaya Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar untuk melakukan penyuluhan pencegahan penyakit DBD kepada masyarakat dengan cara PSN dan 3M plus (menguras, menutup tempat penampungan air, dan mendaur ulang barang-barang bekas) serta ditambah (plus) menaburkan larvasida pembasmi jentik, memelihara ikan pemakan jentik, mengganti air dalam pot/vas bunga, dan lain-lain.
Tidak hanya itu, cara lain mencegah DBD yaitu dengan program 1 rumah 1 jumantik. Dengan begitu, ada seorang yang bertanggung jawab terhadap pencegahan jentik di masing-masing rumah. Diharapkan dengan program ini penyebaran nyamuk chikungunya bisa ditekan.
“Tahun ini ada 10 orang meninggal dunia (MD) dibandingkan jumlah kasus 1.163. Itu persentase kecil dan di bawah target kementerian. Kami berharap tidak ada kasus MD (meninggal dunia) lagi. Warga yang bergejala harus segera dirawat di fasilitas kesehatan,” tandasnya. (owi/ian)






