Gresik (beritajatim.com)- Ancaman penyebaran penyakit campak di Kabupaten Gresik kian mengkhawatirkan. Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat mencatat sebanyak 65 pasien masuk kategori suspek campak sepanjang Januari hingga Maret 2026.
Jumlah tersebut menjadi peringatan serius, mengingat campak merupakan salah satu penyakit infeksi paling menular. Dalam kondisi tertentu, satu penderita bahkan dapat menularkan virus kepada hingga 18 orang lainnya.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Gresik, dr. Puspitasari Wardani, mengungkapkan bahwa tingkat penularan campak tergolong sangat tinggi dan perlu diwaspadai masyarakat.
“Untuk saat ini ada 65 pasien curiga campak mulai dari bulan Januari hingga Maret 2026,” ujarnya, Selasa (31/3/2026).
Ia menjelaskan, gejala umum campak meliputi demam tinggi, batuk, pilek, mata merah, serta munculnya ruam atau bercak kemerahan pada kulit. Gejala ini sering dianggap sepele, padahal berpotensi berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.
Jika tidak ditangani dengan tepat, campak dapat menyebabkan komplikasi berbahaya seperti pneumonia, ensefalitis (radang otak), hingga diare berat yang mengancam keselamatan pasien, terutama pada anak-anak.
Dalam penanganannya, pasien campak biasanya mendapatkan terapi suportif sesuai gejala. Mulai dari pemberian obat penurun panas, vitamin A, asupan nutrisi yang cukup, hingga isolasi untuk mencegah penularan lebih luas. Pada kasus dengan komplikasi, pasien akan dirawat intensif di fasilitas kesehatan.
Sebagai langkah pencegahan, Dinkes Gresik menekankan pentingnya imunisasi campak yang diberikan sesuai jadwal, yakni saat anak berusia 9 bulan, 18 bulan, dan saat usia sekolah dasar.
Pihaknya juga mengimbau masyarakat, khususnya orang tua, agar tidak menunda imunisasi anak. Selain itu, jika ada anggota keluarga yang menunjukkan gejala campak, segera lakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan terdekat.
“Untuk mencegah campak diharapkan orang tua dapat melengkapi imunisasi campak pada anak-anaknya sesuai jadwal. Jika ada gejala, segera periksa ke fasilitas kesehatan,” pungkas Puspitasari Wardani. [dny/aje]






