Ponorogo (beritajatim.com) – Pernahkah Anda makan di tempat yang juga berfungsi sebagai galeri seni dan pameran barang antik? Di Kabupaten Ponorogo, Warung Samandiman menghadirkan konsep unik yang menggabungkan kuliner dengan budaya.
Berlokasi di Kelurahan Ronowijayan, warung ini menyajikan pengalaman berbeda bagi para pengunjung dengan memajang koleksi pusaka dan seni dari berbagai daerah.
Tidak seperti rumah makan pada umumnya, Warung Samandiman dirancang layaknya ruang pameran dengan puluhan koleksi pusaka, seperti keris, akik, hingga seni ukir yang ada di tempat khusus di salah satu sudut ruangan rumah makan. Koleksi ini berasal dari berbagai kota, termasuk Yogyakarta, Solo, Surabaya, Pacitan, dan Trenggalek.
Sugeng Prasetyo, pemilik Warung Samandiman, memiliki visi lebih dari sekadar menyediakan tempat makan. Ia ingin membangun kesadaran budaya dan melestarikan koleksi seni serta barang antik.
“Kami ingin menghapus anggapan bahwa warung hanya sekadar tempat nongkrong. Dengan konsep ini, warung juga bisa menjadi ruang edukasi budaya,” kata Sugeng, Sabtu (01/03/2025).
Seperti yang terlihat beberapa waktu yang lalu, Warung Samandiman menggelar acara pameran yang bertajuk Samandiman Part 1. Dalam acara ini, pengunjung bebas menikmati koleksi yang dipajang serta berkesempatan mengikuti lelang barang antik yang diadakan setiap malamnya.
Sugeng berharap konsep ini dapat menginspirasi pemilik warung lain untuk mengembangkan ruang usaha mereka dengan sentuhan budaya.
“Saya ingin ini menjadi contoh bagi warung-warung lain, agar bisa menggabungkan bisnis dengan edukasi budaya,” tambahnya.
Acara ini menarik perhatian banyak kolektor, salah satunya Haripati dari Surabaya. Ia membawa lebih dari 100 koleksi pusaka, termasuk keris, tombak, kujang, dan akik. Bagi Haripati, mengikuti pameran bukan hanya soal transaksi jual beli, tetapi juga upaya mengenalkan budaya Indonesia kepada generasi muda.
“Kita harus melestarikan warisan leluhur agar tidak jatuh ke tangan asing. Dengan pameran seperti ini, anak muda bisa lebih mengenal budaya dan artefak Nusantara,” ungkapnya. (end/ian)






