Blitar (beritajatim.com) – Sebanyak 4 kepala keluarga tersisa yang masih menempati Perkampungan Tlogo Gentong di Lereng Gunung Kawi akhir tahun ini harus angkat kaki dari tanah kelahirannya. Mereka terusir, lantaran kampungnya tersebut akan digunakan untuk kandang ternak sapi perah milik salah satu perusahaan susu terbesar di Asia Tenggara.
Perusahaan tersebut tidak lain adalah PT. Greenfields Indonesia. Rencananya perusahan susu terbesar di Asia Tenggara itu akan melebarkan sayapnya dengan membangun Farm 3 yang berada di wilayah Tlogo Gentong Lereng Gunung Kawi.
“Iya benar. Pembebasan lahan sudah kami lakukan. Tinggal menunggu momentum saja,” kata Head of Dairy Farm PT Greenfields Blitar, Heru Prabowo usai peletakkan batu pertama pembangunan pengolahan biogas, Selasa (11/9/2023)
Rencana tersebut tentu menjadi pukulan telak bagi warga Tlogo Gentong. Sebenarnya warga Tlogo Gentong juga menyadari bahwa tanah yang mereka tempati bukanlah miliknya, melainkan masuk dalam HGU PT. Sari Bumi Kawi (SBK).
Sebanyak 16 kepala keluarga yang ada di Tlogo Gentong dulunya merupakan pekerja buruh tanam dan petik daun teh. Namun setelah perusahaan yang menaunginya pailit, mereka terlantar begitu saja.
Belasan kepala keluarga tersebut telah menghuni Tlogo Gentong selama berpuluh-puluh tahun lamanya. Sejak perkampungan tersebut belum teraliri listrik hingga akhirnya perusahan PT Sari Bumi Kawi membangun turbin untuk penerangan warga.
Kini sebanyak 12 kepala keluarga telah meninggalkan Tlogo Gentong. Sementara 4 sisanya harus angkat kaki dari perkampungan terluar di Kabupaten Blitar tersebut pada akhir tahun ini. “Pokok e Greenfilds masok kulo pindah mriko dereng semerep pokok e Greenfilds mlebet kulo pindah mriko,” ungkap Turiman, warga Tlogo Gentong.
Warga Tlogo Gentong sebenarnya tidak keberatan untuk pindah di pemukiman baru yang telah disiapkan asalkan ada pekerjaan yang jelas. Pasalnya sebanyak 12 kepala keluarga yang telah pindah ke Tlogo Mas, saat ini masih berladang dan mencari rumput di area perkampungan Tlogo Gentong.
Dengan perpindahan tersebut, maka 12 kepala keluarga itu kini harus pulang pergi yang jaraknya lumayan jauh hanya untuk bekerja. Sementara 4 keluarga yang masih tersisa ini mayoritas berusia lanjut sehingga mereka memilih bertahan di Tlogo Gentong agar memudahkan mereka saat bekerja.
“Wonten ngandap nganggur sakniki seng wonten mriko geh tetep teng mriki nyambot damel e (di bawah nganggur mereka yang sudah pindah juga tetap kesini untuk bekerja),” imbuhnya.
Harapan warga Tlogo Gentong sebenarnya cukup sederhana. Mereka diberikan kejelasan terkait pekerjaan dan masih diperbolehkan untuk berkunjung ke kampung halamannya Tlogo Gentong meski perusahaan susu Greenfilds telah masuk.
Namun rencana perluasan farm 3 Greenfilds ini nampaknya akan terjal. Wabup Blitar, Rahmat Santoso dengan tegas menolak rencana tersebut. Rahmat mengatakan, pihaknya tidak akan memberikan rekomendasi izin pembangunan farm 3, jika Greenfield belum memenuhi kewajibannya menangani dampak lingkungan.
“Dari Kabupaten Blitar tidak pernah memberikan izin untuk farm 3. Harus disepakati dulu tiga PR yang merupakan hasil pengawasan dan koordinasi Pemprov Jatim,” tandas Rahmat.
Tiga pekerjaan rumah tersebut merupakan hasil rapat koordinasi antara DLH Pemprov Jatim dengan DLH Pemkab Blitar. Dan hasil koordinasi tersebut telah dilaporkan melalui surat resmi kepada Presiden Jokowi dan KSP.
Pertama, Greenfield harus menyelesaikan review AMDAL. Kedua, membuat Ipal dan ketiga membuat fasilitas biogas. Walaupun semua kewenangan perizinan saat ini berada di pusat, namun daerah tetap punya tanggung jawab melakukan pengawasan.
“Hari ini masih satu yang dilaksanakan. Yakni pembangunan biogas, walaupun tadi presentasinya hanya 70 persen dari limbah yang bisa diolah. Setidaknya ada progres dari pengawasan yang kami sampaikan. Karena semua kewenangan dan izin ada di pusat,” kata Kepala DLH Pemprov Jatim , Jempin Marbun. (owi/kun)
BACA JUGA: Greenfields Bangun Pengolahan Limbah Sapi Jadi Gas di Blitar






