Surabaya (beritajatim.com) – Warga Jalan Cumpat, Surabaya menggunakan peralatan tradisional dari papan kayu bernama rubu’, untuk mengamati hilal dalam upaya mendeteksi awal Ramadan 1446 H/2025.
Di tengah gemerlapnya teknologi, warga Jalan Cumpat tetap mempertahankan tradisi dengan menggunakan rubu’ untuk menghitung derajat hilal, alat yang lazim digunakan pada tahun 1980-an.
Menurut Takmir Masjid Al-Mabrur, Mas’dui Ahyat, pengecekan hilal menggunakan rubu’ telah menjadi tradisi tahunan untuk menentukan awal ramadan.
“Ini nama alatnya rubuk, sudah buat memantau atau rukyatul hilal di Al-Mabrur,” kata Takmir Masjid Al-Mabrur, Mas’dui, Jumat (28/2/2025).
Mas’dui juga mengatakan, dirinya sore ini tidak melihat penampakan hilal karena mendung yang menutupi langit Kenjeran. Padahal, dia sudah mengeceknya sampai sekitar pukul 18.15 WIB.
“Rukyatul hilal dari atas Masjid Al-Mabrur Nambangan, tidak bisa melihat bulan karena kondisinya mendung. Seharusnya bisa melihat bulan mulai azdan magrib itu dimulainya,” ucap dia.
“Kalau sebelum magrib kelihatan bulan itu tidak sah, ada yang kelihatan sebelum magrib 30 menit itu tidak sah. Setelah matahari terbenam baru bulan di atasnya, itu kurang lebih 5 derajat,” imbuh Mas’dui menjelaskan.
Nantinya, lanjut Mas’dui hasil rukyatul hilal tersebut akan dilaporkan kepada pihak PCNU Surabaya. Kemudian, akan semua laporan pemantauan bakal langsung dikumpulkan ke PBNU.
Diketahui, di tempat berbeda, pemantauan hilal juga dilakukan oleh Observatorium Astronomi Sunan Ampel (OASA) Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Sunan Ampel (UINSA) Surabaya.
Untuk diketahui, setelah selesai melakukan pemantauan hilal di berbagai titik di Indonesia, hasil sidang isbat menetapkan bahwa 1 Ramadhan 1446 Hijriah bertepatan dengan tanggal 1 Maret 2025.
“Sidang isbat secara mufakat menetapkan 1 Ramadhan 1446 Hijriyah jatuh pada hari Sabtu 1 Maret 2025,” ujar Menteri Agama (Menag) RI Nasaruddin Umar dalam jumpa pers di kantor Kemenag, Jakarta Pusat, Jumat (28/2/2025). [ram/ian]






