Ponorogo (beritajatim.com) – Di tangan warga Ponorogo, Heri Ismakut (45), limbah kayu yang sering terabaikan justru berubah menjadi karya seni bernilai tinggi. Berbekal keterampilan mengukir dan teknik pewarnaan khas Jawa tempo dulu, Heri berhasil menghidupkan kembali seni tradisional yang hampir punah sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru.
Di rumah sederhananya di Desa Mojomati, Kecamatan Jetis, Ponorogo, Heri dengan telaten mengukir pola wayang dan ornamen khas Jawa lainnya. Bahan bakunya berasal dari limbah kayu, baik dari sisa pembongkaran rumah maupun limbah mebel yang dikumpulkan dari sekitar desa.
“Dengan teknik ukiran Jawa dan pewarnaan khusus, saya membuat blawong (papan untuk tempat keris) dan blencong (lampu minyak untuk pementasan wayang kulit zaman dulu),” kata Heri, Senin (3/3/2025).
Setiap kerajinan buatannya memerlukan ketelitian tinggi dan proses yang tidak instan. Dibutuhkan waktu hingga satu minggu untuk menyelesaikan satu ukiran. Namun, usaha dan kerja kerasnya terbayar karena hasil karyanya kini telah menembus pasar nasional, termasuk Bali dan Jakarta.
“Permintaan kerajinan ini ada yang dari Bali dan Jakarta,” ujarnya.
Tak hanya sekadar menciptakan nilai ekonomi, Heri juga berharap karyanya dapat menginspirasi generasi muda untuk tetap melestarikan budaya Jawa. Harga produk buatannya bervariasi, mulai dari Rp500 ribu hingga jutaan rupiah, tergantung ukuran dan tingkat kerumitan.
“Kreativitas dan ketekunan bisa mengubah sesuatu yang tak berharga menjadi mahal. Saya ingin ini menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk tidak melupakan seni budaya kita,” pungkasnya.






