Ponorogo (beritajatim.com) – Jika biasanya mi lidi identik dengan bentuk yang kecil dan rasanya yang pedas, namun ditangan Marjoko, warga Ponorogo ini, jajanan jaman dulu ini, diubah menjadi jajanan yang lebih kekinian.
Mi lidi buatannya tidak hanya memiliki rasa pedas, tetapi banyak varian rasanya. Tidak hanya itu, ukuran mi lidi pun jumbo, yakni mencapai 30 centimeter. Berkat inovasi mi lidinya itu, laki-laki berusia 35 tahun itu, dalam sebulan omzet penjualannya bisa mencapai Rp50 juta.
“Alhamdulillah, dengan inovasi berbagai varian rasa dan ukurannya yang lebih panjang dari biasanya, mi lidi buatan saya ini disukai banyak orang,” ungkap Marjoko, Sabtu (09/12/2023).
Baca Juga: Terekam CCTV Bawa Mobil, Kawanan Maling Gasak Motor di Dua Minimarket di Mojokerto
Proses pembuatan mi lidi yang diberi nama oleh Marjoko dengan nama Dasdes atau Dhaharan Pedes itu, tidaklah sulit. Marjoko menggunakan campuran tepung terigu dan tepung tapioka, kemudian mencetak adonan tersebut menjadi mie yang kecil, lurus, dan memanjang. Mi kemudian dipanggang dan digoreng dengan api kecil untuk menjaga kerenyahan dan teksturnya.
Setelah matang, mi lidi itu kemudian diberi varian rasa. Yakni rasa coklat, sapi panggang, jagung manis, dan balado pedas. Dalam menjalankan usaha mi lidi ini, Marjoko dibantu oleh 11 karyawannya, yang kebanyakan adalah remaja lulusan SMA yang memilih tidak melanjutkan kuliah karena biaya yang tinggi.
Usaha yang dirintis sejak tahun 2016 ini, telah membuahkan hasil, dengan omzet mencapai Rp50 juta per bulan. Mi lidi Dasdes ini juga banyak disukai, terutama para remaja. Kebanyakan mereka karena rasanya yang gurih, asin, dan memiliki keunikan suara renyah ketika digigit.
“Banyak yang suka, ya kebanyakan para remaja. Beda dengan mi lidi yang dulu-dulu itu,” katanya.
Mi lidi buatan Marjoko itu, pemasarannya pun tidak hanya di wilayah karesidenan Madiun saja, namun sudah merambah pasar di luar Pulau Jawa. Marjoko mengirimkan jajanan jadul tapi kekinian itu ke Sumatera dan Kalimantan. Harganya pun cukup terjangkau, yakni mulai Rp2 ribu hingga Rp12 ribu, tergantung pada kemasan dan isi yang diinginkan.
Baca Juga: Rekomendasi Wisata di Ponorogo Saat Liburan Nataru
“Selain Jawa, pemasaran mi lidi ini sudah sampai Sumatera dan Kalimantan,” katanya.
Sementara itu, Kaila Putri salah satu penggemar mi lidi Dasdes mengaku suka dengan varian rasa sapi panggang. Ia mengaku rasanya tidak bikin enek, terus ada rasa gurih dan asin saat sudah dikunyah.
“Rasanya tidak enek, cocok banget buat camilan saat santai,” pungkasnya. (end/ian)






