Pacitan (beritajatim.com) – Di tengah melonjaknya harga sejumlah kebutuhan pokok, nasib berbeda justru dialami para petani kelapa di Kabupaten Pacitan. Harga kelapa di tingkat petani kini anjlok drastis hingga hanya berkisar Rp1.500 per butir.
Tak hanya kelapa utuh, harga kopra atau kelapa kering juga ikut turun. Saat ini harga kopra berada di kisaran Rp9 ribu per kilogram. Kondisi tersebut membuat petani dan pedagang mengeluhkan turunnya pendapatan karena hasil penjualan tak lagi sebanding dengan biaya produksi.
Slamet, pedagang kelapa asal Kecamatan Tulakan, mengatakan penurunan harga kali ini sangat terasa memberatkan. Sebab, biaya kebutuhan sehari-hari maupun ongkos panen justru terus mengalami kenaikan. “Sekarang harga kelapa tinggal sekitar Rp1.500 per butir. Padahal biaya panen juga mahal,” katanya, Senin (11/5/2026).
Menurut dia, biaya tenaga kerja untuk memanen kelapa saat ini mencapai sekitar Rp500 ribu untuk setiap 1.000 butir kelapa. Dengan harga jual yang rendah, keuntungan yang diperoleh pedagang maupun petani menjadi sangat tipis setelah dipotong biaya operasional.
Keluhan serupa disampaikan Bejo, petani kelapa asal Hadiluwih, Ngadirojo. Ia menyebut kondisi saat ini jauh berbeda dibanding tahun lalu ketika harga kelapa sempat menembus Rp6 ribu hingga Rp7 ribu per butir. “Kalau dulu petani masih bisa untung lumayan. Sekarang hasil penjualan banyak habis untuk biaya panen,” ujarnya.
Anjloknya harga kelapa diduga dipicu melimpahnya stok di pasaran akibat musim panen yang berlangsung bersamaan di sejumlah daerah. Kondisi itu membuat pasokan meningkat tajam sehingga harga jual di tingkat petani ikut tertekan.
Para petani berharap pemerintah dapat turun tangan menjaga stabilitas harga kelapa agar harga tidak terus merosot dan merugikan petani di tengah tekanan ekonomi yang semakin meningkat. (tri/kun)






