Lamongan (beritajatim.com) – Meski hampir 2 bulan, penanganan banjir di kawasan sungai Bengawan Njero dinilai tak kunjung tuntas. Banjir ini tak hanya menggenangi lahan pertanian, namun juga merendam permukiman warga, akses jalan, dan fasilitas umum lainnya.
Salah satu tokoh Bengawan Njero, M. Hamim mengatakan, bahwa kiprah dari Pemerintah Kabupaten Lamongan dalam penanganan banjir di kawasan Bengawan Njero selama ini masih belum maksimal.
“Jadi persoalan pada hambatan-hambatan arus air di sepanjang sungai misalnya, itu kan sudah kita usulkan berkali-kali agar ditanggulangi, namun lagi-lagi pemerintah kurang serius. Belum lagi dalam hal pengoperasian DAM yang tak maksimal,” ujar Hamim, kepada wartawan, Kamis (20/1/2022).
Lebih lanjut Hamim menjelaskan, bahwa keberadaan eceng gondok, sampah, dan alat-alat pencari ikan seperti, anco, cager, cadong, awer dan lain-lain di sepanjang sungai pembuang tersebut sangat menghambat arus air sungai untuk menuju laut.
“Ini seharusnya jadi kewenangan Pemkab Lamongan. Namun penanganannya belum terasa dan alasan yang diberikan oleh Pemkab selama ini juga kurang jelas, padahal sudah berbulan-bulan. Justru penanganan-penanganan tersebut dilakukan oleh kelompok-kelompok desa secara mandiri, urunan,” imbuhnya.

Selain itu, Hamim juga menilai, bahwa pemerintah seolah mengabaikan keberadaan sungai pembuang banjir Bengawan Njero, yakni Kali Corong, Kali Wangen, Kali Bendungan, dan Kali Buden. Sekaligus saluran menuju sungai pembuang, yakni Kali Blawi, Kali Malang, dan Kali Keputran.
“Muncul desakan dari para kawan dan tokoh Bengawan Njero yang memprotes berdirinya DAM Margoanyar Glagah. DAM tersebut memiliki 5 pintu, dengan ukuran pintu yang hanya 1,8 meter, padahal lebar bentang atas kali Malang di DAM adalah 30 meter,”
“Sangat jauh jika dibandingkan DAM Wangen yang memiliki pintu dengan lebar 22 meter. Belum lagi muncul informasi ada 10 desa yang minta agar DAM tak dibuka, tapi perlu diingat, bahwa dengan tidak dibukanya DAM, maka ada 10.500 hektar sawah tambak atau 134 desa yang dikorbankan,” tuturnya.
Sebagai informasi, selama tahun 2021, sejumlah upaya penanggulangan banjir di kawasan Bengawan Njero yang sudah dilakukan atas usulan warga di antaranya pengadaan dua mesin pencacah eceng gondok, dua kali pembongkaran bendungan di Desa Kemudi, Duduksampeyan, Gresik yang dapat menambah pembuangan 7 m³/detik.
[berita-terkait number=”4″ tag=”pemkab-lamongan”]
Rehabilitasi daun pintu air Sloic Tanggok yang dapat menambah pembuangan 11 m³/detik, rehabilitasi daun pintu Sloic Kuro yang dapat mencegah masuknya air, yakni ada penambahan 2 m³/detik, dan pengerukan sisi DAM Glagah yang meski dinilai masih kurang sesuai harapan.
Kemudian normalisasi rawa Pucangro, normalisasi waduk Palangan, normalisasi irigasi PA Butungan, dan Rehabilitasi PA Karanggeneng.
“Hal-hal tersebut merupakan ketercapaian dari upaya kita bersama dalam mengawal Bengawan Njero pada tahun 2021. Meski begitu, masih ada usulan rekomendasi yang belum tercapai dan bersifat segera untuk dilakukan,” kata Hamim.
Adapun usulan itu yakni pembongkaran DAM Glagah atau penambahan dua pintu yang masing-masing mempunyai lebar 4 meter, pembersihan eceng gondok, tumbuhan liar, dan alat pencari ikan di sepanjang saluran sungai pembuang yakni Kali Blawi, Kali Keputran, Kali Malang, Kali Wangen, Kali Bendungan, dan Kali Plosobuden.
“Selama ini, jika hanya mengandalkan pompa yang ada, maka hanya mampu membuang air 5 m³/detik. Oleh karena itu, sistem gravitasi masih dianggap paling efektif untuk menangani persoalan banjir di Bengawan Njero,” tambahnya.
Ditambahkan Hamim, pihaknya juga mengajukan rekomendasi penanganan irigasi, sesuai Perpres Nomor 80 Tahun 2019, yakni percepatan pembangunan Intake Keting ke Rawa Sekaran dan intake Melik.
Sebagai pembanding, berdasarkan data yang dihimpun dari Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Pemkab Lamongan, pada Selasa (11/1/2022) lalu, Pemkab Lamongan telah mengundang pihak Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo, Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (DPU SDA) Provinsi Jawa Timur, serta Divisi Jawa ASA III Perusahaan Umum Jasa Tirta untuk merumuskan solusi banjir di Bengawan Njero.
Hasil dari rapat saat itu menyebutkan, segera akan dibentuk Tim Penanganan Banjir Bengawan Njero dari keempat pihak tersebut, yang meliputi penanganan jangka pendek dan jangka panjang.
Untuk jangka pendek, agar air segera surut, BBWS Bengawan Solo akan memberikan bantuan alat berat yang digunakan untuk normalisasi Kali Dinoyo pada titik kritis sepanjang 3 km. Lalu DPU SDA akan menormalisasi Rawa Semando dan Rawa Cungkup. Sedangkan Pemkab Lamongan dibantu oleh TNI, Polri dan Satpol PP akan melakukan pembersihan alur sungai.
Kemudian untuk jangka panjangnya, akan dilakukan rehabilitasi Sluis Kuro serta merealisasikan normalisasi BMCM (Blawi, Malang, Corong, Mireng) dan DKWM (Dinoyo, Keputran, Wangen, Manyar) oleh BBWS Bengawan Solo.
Bahkan, Pemkab Lamongan juga mengaku akan melakukan normalisasi saluran pompa melik (ledeng wedung) dan pompa kuro. Serta akan dilakukan review Pedoman Operasi Bendung Gerak Cascade (Bendung Gerak Bojonegoro, Bendung Gerak Babat, Pintu Air Floodway dan Bendung Gerak Sembayat) oleh Perum Jasa Tirta.[riq/ted]






