Ngawi (beritajatim.com) – Kekeringan ekstrem yang melanda Kabupaten Ngawi menyebabkan krisis air bersih di sejumlah desa. Warga di beberapa desa, seperti Kerek, terpaksa berbagi air dengan tetangga karena sumur-sumur mereka mengering.
Kondisi ini semakin memprihatinkan seiring dengan semakin panjangnya musim kemarau. Seperti terlihat dalam laporan terbaru, warga Desa Kerek harus rela antre untuk mendapatkan air bersih dari sumur tetangga yang masih memiliki sedikit air.
Air yang didapatkan pun digunakan sehemat mungkin. Hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti mencuci dan memasak.
Sani, salah satu warga Desa Kerek, mengaku merasa tidak enak terus-menerus meminta air kepada tetangganya.
“Nggak enak terus-terusan minta air ke tetangga karena dikasih uang pun juga tidak mau. Air untuk mencuci dan memasak sumur di sini pada kering, belum ada bantuan air datang,” ungkapnya.
Hal senada juga diungkapkan oleh Agus Susilo, warga Desa Kerek lainnya. Menurutnya, banyak warga di desanya yang membuat sumur baru karena sumur yang lama sudah kering.
“Karena sumur disini pada kering mas makanya buat sumur baru sebelumnya juga meminta minta air ke tetangga ada sekitar 20 KK di sini yang kesulitan air bersih belum ada bantuan,” jelasnya.
BPBD Ngawi Siagakan Bantuan
Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ngawi, setidaknya ada 6 desa yang tersebar di 4 kecamatan mengalami krisis air bersih.
Desa-desa tersebut adalah Banjarbanggi dan Cantel di Kecamatan Pitu, Jagir di Kecamatan Sine, Suruh dan Kenongorejo di Kecamatan Bringin, Desa Kerek Kecamatan Ngawi. Untuk mengatasi masalah ini, BPBD Ngawi telah melakukan droping air secara rutin, setidaknya tiga kali dalam seminggu.
Partoyo, Kasi Kedaruratan BPBD Kabupaten Ngawi, mengatakan bahwa puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada pertengahan September 2024. Kondisi ini diperkirakan akan semakin memperparah krisis air bersih di sejumlah desa.
“Ada 6 desa tersebar di empat kecamatan droping air sudah dilakukan. Diperkirakan puncaknya kemarau September 2024 ini,” ujarnya.
BPBD Ngawi telah memetakan sebanyak 23 desa di 8 kecamatan yang berpotensi mengalami krisis air bersih. Pihaknya pun telah menyiapkan langkah-langkah antisipasi untuk menghadapi kondisi tersebut. [fiq/beq]






