Pasuruan (beritajatim.com) – Wakil Presiden Ma’ruf Amin melakukan kunjungan ke PT. Prada Tanara Pratama dan PT Fronte Classic Indonesia di Kawasan Industri PIER (Pasuruan Industrial Estate Rembang), Kecamatan Bangil. Kunjungan ini bertujuan untuk meninjau pengolahan limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) di kedua perusahaan tersebut.
Wapres Ma’ruf tiba di PT. Prada Tanara Pratama pada pukul 14.00 WIB dan langsung melihat proses pengolahan limbah B3. Menurutnya, pengolahan limbah di perusahaan ini sangat baik dan sesuai standar, karena dilakukan di dalam kawasan industri dan jauh dari permukiman penduduk.
“Saya lihat pengolahan limbah B3 dan limbah lainnya di Kawasan PIER ini sangat bagus. Tidak dibangun dekat dengan rumah penduduk atau fasilitas publik, tapi di dalam kawasan perusahaan sendiri,” katanya.
Ia menekankan pentingnya pengolahan limbah B3 yang tepat, mengingat limbah tersebut sangat berbahaya dan dapat berdampak buruk pada kesehatan buruh serta lingkungan sekitar jika tidak dikelola dengan baik. Ma’ruf juga mendukung upaya Kementerian Lingkungan Hidup untuk membangun fasilitas pengolahan limbah di dalam kawasan industri.
“Apalagi sampah B3 tiba-tiba dibuang ke beberapa tempat, sudah pasti jadi masalah. KLH berupaya membangun tempat pengolahan sampah di dalam kawasan industri, pengolahan limbah harus dilakukan di dalam kawasan. Tidak malah dibuat sendiri,” ujarnya.
Wapres berharap pengolahan limbah perusahaan dapat terintegrasi dengan baik sehingga tidak mengganggu aktivitas warga atau menyebabkan polusi udara yang merugikan kesehatan.
“Apalagi sampah B3 yang sangat berbahaya bagi kesehatan. Jadi mulai sekarang kami minta semua perusahaan dapat memahami pentingnya pengolahan sampah yang terintegrasi,” tegasnya.
Setelah 30 menit di PT. Prada Tanara Pratama, Wapres melanjutkan kunjungannya ke PT Fronte Classic Indonesia. Di sana, ia melihat proses finishing dan packing barang sebelum dikirim ke luar negeri. Dirinya menilai bahwa perusahaan ini memberikan kontribusi besar bagi Indonesia, dengan 80 persen produk karpet mobil yang diproduksi diekspor ke Jepang dan negara Eropa, serta 20 persen untuk pasar lokal.
“Artinya sudah luar biasa, karena masih berproduksi untuk kebutuhan dalam negeri meski prosentasenya kecil,” terangnya. (ada/but)






