Surabaya (beritajatim.com) – Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak dan Animation and Film Factory (AFF) Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Singhasari menerima kunjungan dari penggiat dunia perfilman Australia Barat yang tergabung dalam delegasi Screenwest.
Setelah beberapa kali melakukan pertemuan virtual selama masa pandemi, delegasi Screenwest bertemu secara langsung dengan pekerja kreatif, khususnya di bidang film dan animasi yang berada di bawah naungan di KEK Singhasari.
Dalam diskusinya, Head of Productions dari Screenwest, Chris Veerhuis memaparkan ketertarikannya akan menjadikan Jawa Timur sebagai lokasi shooting untuk film-film Australia Barat yang akan diproduksi di masa depan.
“Jawa Timur memiliki alam yang sangat indah, terlebih lagi Sumber Daya Manusia (SDM) di bidang Industri Kreatif yang sangat ahli dan bisa berkolaborasi dengan pekerja keratif di Australia Barat,” kata Chris Veerhuis dalam keterangan tertulis yang diterima beritajatimcom, Senin (20/3/2033).
Delegasi yang terdiri dari 6 orang pekerja film senior dari Australia Barat itu juha mengunjungi KEK Singhasari, Malang. Mereka ingin mengerti secara detail tentang sektor industri kreatif di Indonesia.
Dalam acara diskusi bertajuk Sharing Session and Creative Conversations, pekerja kreatif KEK Singhasari dan delegasi Screewest bertukar ide dan brainstorming untuk sebuah ide co-production antara Jawa Timur dan Australia Barat.
BACA JUGA:
Emil Dardak: Pragmatisme Kaum Muda Bukan Semata Karena Uang
Emil Dardak Pastikan Partai Pendukung Anies di Jatim Solid
“Acara Sharing Session dan Creative Conversation ini adalah kelanjutan dari rencana besar Animation and Film Factory (AFF) di KEK Singhasari masuk ke dalam kancah perfilman internasional,” kata Wakil Gubernur Jatim, Emil Dardak.
Saat ini, lanjut Emil, AFF sudah memulai diskusi dan melakukan kolaborasi dengan negara-negara seperti Amerika Serikat, Inggris, dan terutama Australia.
Pada bulan Desember 2022, sudah ada beberapa sutradara film dokumenter Australia yang terlebih dahulu memberikan masterclass di bidang perfilman.
“Australia, khususnya di Australia Barat adalah episentrum dari dunia perfilman dan performing arts,” kata mantan Bupati Trenggalek ini.
WAAPA (Western Australian Academy of Performing Arts), yang berlokasi di kampus Edith Cowan University (ECU), adalah institusi pendidikan performing arts yang paling terkenal di Australia.
“Aktor seperti Hugh Jackman adalah lulusan dari WAAPA,” ujar Emil.
BACA JUGA:
Emil Dardak Pastikan Usulan 29 Ribu Alat Ukur Balita
Emil Dardak: NKRI Berdiri atas Perjuangan Kiai dan Santri
Direktur Utama PT Intelegensia Grahatama selaku Badan Usaha Pembangun dan Pengelola (BUPP) KEK Singhasari, David Santoso baru saja kembali dari Australia Barat untuk melakukan kunjungan balasan dan juga untuk bertemu langsung dengan beberapa delegasi industri perfilman Australia Barat yang akan melakukan kunjungan ke KEK Singhasari di bulan Maret 2023.
Selain itu, David Santoso telah menandatangani Letter of Intent (LoI) antara KEK Singhasari dengan Western Australia Creative Tech Innovation Hub, Edith Cowan University (ECU), yang diwakili oleh Rektor ECU Prof Codie sebagai pelaksana dari WA Creative Technology Innovation Hub (WACTIH), dan juga disaksikan oleh 2 orang Menteri dari Pemerintah Australia Barat, yaitu : Menteri Inovasi dan TIK Hon. Stephen Dawson MLC, dan Menteri Pembangunan Regional, Hon. Don Punch MLA. Kegiatan berlangsung di Dolphin Discovery Center Bunbury.
“Industri teknologi kreatif dan inovasi tengah berkembang di Australia Barat. Industri kreatif ini juga menjadi fokus dari KEK Singhasari,” kata David Santoso.
Untuk itu, dia berharap kerjasama antara kedua institusi ini mampu menjadi jembatan bagi semakin berkembangnya industri kreatif di tanah air dan lebih jauh lagi meningkatkan hubungan bilateral antara Indonesia dan Australia.
Selain itu, lanjut David, KEK Singhasari sangat mendukung perkembangan industri kreatif di Indonesia. Di bulan Oktober 2022. KEK Singhasari juga telah meresmikan Animation and Film Factory (AFF), sebuah pusat animasi dan film terbesar di Indonesia.
“AFF menjadi salah satu kluster bisnis yang dikembangkan di KEK Singhasari saat ini yaitu content. AFF saat ini memiliki sekitar 20 studio dengan 500 kreator,” katanya.
Dengan menganut pola plasma-inti, KEK Singhasari meyakini bahwa demokritisasi content dapat terwujud dengan baik.
“Selain menjadi yang terbesar di Indonesia, pola pengembangan berbasis komunitas akan melahirkan para insan kreator yang dapat berkolaborasi dalam menghasilkan konten yang memiliki kualitas tinggi,” pungkasnya.
Sebagai informasi, salah satu delegasi Screenwest adalah Head of Production Screenwest, Christopher Veerhuis. Veerhuis telah bekerja di dunia perfilman selama lebih dari 15 tahun.
Hasil karyanya yang terbaru adalah sebuah film documenter, Facing Monsters, yang juga terpilih untuk masuk dalam Slamdance Film Festival 2022. Selain itu, Chris juga ikut memproduksi film-film antara lain ‘Breath’ and ‘Red Dog: True Blue’. [asg/but]






