Surabaya (beritajatim.com) – Wakil Gubernur Jawa Timur (Jatim), Emil Elestianto Dardak mendesak lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Jatim untuk segera menguasai bahasa asing.
Hal ini dinilai krusial agar mereka mampu bersaing di pasar kerja global, terutama di tengah tawaran puluhan ribu lowongan kerja di negara seperti Taiwan, Jepang, dan Korea.
Desakan ini disampaikan Emil dalam forum “Strategi Peluang Kerja SMK Provinsi Jatim” yang digelar Dinas Pendidikan Jatim di Surabaya, Rabu (3/12/2025).
Menurut Emil, peluang kerja luar negeri harus dimanfaatkan secara maksimal. “Jangan menunggu lulus untuk belajar bahasa. Siapkan jauh-jauh hari,” kata Emil.
Ia mencontohkan, Taiwan membuka 15 ribu lowongan, Jepang butuh lebih dari 345 ribu tenaga kerja via skema Specified Skilled Worker (SSW), dan Korea juga menawarkan peluang besar.
Emil mengakui, meski tingkat pengangguran terbuka (TPT) lulusan SMK di Jatim menunjukkan tren penurunan dari 8,70 persen (2023) menjadi 6,78 persen, angka tersebut masih menjadi yang tertinggi dibanding jenjang pendidikan lain.
Namun, ia mengapresiasi keterserapan lulusan SMK di Jatim pada 2024 yang menunjukkan tren positif: 49,18 persen bekerja, 24 persen berwirausaha, dengan rata-rata masa tunggu kerja hanya 3,3 bulan.
Untuk menciptakan sumber daya manusia (SDM) unggul di tengah kepadatan penduduk Jatim 42 juta jiwa, Emil mendorong penguatan pendidikan vokasi.
Ia pun menyoroti pergeseran masif profesi akibat Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0, di mana 1,8 juta pekerjaan diperkirakan tergantikan kecerdasan buatan (AI). “Kita hidup pada era big data dan AI. Apapun bisa dijadikan uang jika kreatif,” tegasnya.
Emil mendorong lulusan SMK menerapkan konsep gig economy, model kerja berbasis proyek, bukan sekadar gaji bulanan. “Ini bisa diterapkan di bidang fotografi, multimedia, event, dan banyak keterampilan lain,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Jatim, Aries Agung Paewai menegaskan komitmennya untuk mengawal keterserapan lulusan SMK melalui tiga langkah strategis.
Pertama, memperkuat link and match antara SMK dan Dunia Usaha dan Dunia Industri/Kerja (DUDIKA). “Industri harus lebih banyak masuk ke sekolah, mengajar, memberi teknik, dan praktik langsung,” ujar Aries.
Kedua, percepatan sertifikasi dan penyediaan micro-credential. Aries menyebut sekitar 5.000 siswa telah memiliki paspor kompetensi yang diakui.
Namun, ia mewanti-wanti pentingnya karakter kerja. “Ada anak yang dipulangkan dari Jepang karena masalah disiplin dan karakter kurang,” ungkapnya.
Ketiga, perlindungan dan perluasan akses pasar kerja, termasuk bagi peserta magang dan calon Pekerja Migran Indonesia (PMI).
Diharapkan, kolaborasi antara pendidikan, industri, dan penguasaan bahasa asing ini menjadikan lulusan SMK Jatim kompetitif, baik di dalam negeri maupun global. [ipl/kun]






