Surabaya (beritajatim.com) – Voice Institute Indonesia menggelar pelatihan offline untuk menjaring para freelancer yang bekerja di bidang dubber (talent Voice Over) Jawa Timur, Sabtu (17/09/2022), di Hotel Kampi, Jalan Taman Apsari No 3-5 Dengan tajuk ‘Voice Over Clinic Surabaya’. Pelatihan ini juga membuka secara resmi ekspansi Voice Institute Indonesia ke Surabaya.
Founder Voice Institute Indonesia, Bimo Kusumo Yudo mengatakan jika profesi sebagai dubber merupakan profesi yang menjanjikan di masa mendatang. Perbandingan antara pelaku VO dan lapangan pekerjaan yang masih jomplang, membuat dirinya memberanikan diri untuk ekspansi ke Surabaya dan mencari bakat di daerah.
“Kita ini kekurangan talent. Karena pemain VO ini orangnya itu-itu aja. Selain itu, di dunia VO itu masih mengandalkan dalam tanda kutip nepotisme. Kenalannya siapa, adeknya siapa yang menyebabkan klien itu bosan. Makanya butuh regenerasi suara dan karakter baru,” ujarnya saat diwawancarai Beritajatim.com, Sabtu (17/09/2022).

Pria yang telah banyak mengisi suara iklan yang tayang di televisi dan digital platform tersebut mengatakan, jika saat ini pasar VO mulai berkembang. Jika dahulu, para talent dianggap sebelah mata karena aksen daerah yang masih terbawa, kini para pengusaha (klien) malah mencari suara-suara yang punya ciri khas daerah.
“Fenomena di Jakarta mencari orang yang medok aksen Jawa Timur untuk take itu sekarang. Kami mikir kenapa harus cari di Jakarta (talennya)? Kan bisa langsung take di Surabaya bahkan, temen-teman Surabaya ini banyak dapet pesenan dari Jakarta,” imbuhnya.
Hal tersebut diamini oleh Ratih Setya perwakilan dari Voice Institute Surabaya. Ia mengatakan jika permasalahan pelaku Voice Over di daerah adalah akses. Menurutnya, jika para talent daerah mampu mendapatkan akses yang baik, ia yakin industri VO akan berkembang pesat.

“Biar di teman-teman di daerah ini juga punya nilai standar yang sama dengan Jakarta. Karena kan selama ini kami melihat, talent-talent daerah itu kan dibayar semena-mena padahal mereka punya kualitas yang kurang lebih sama. Hanya karena talent daerah terus dipandang sebelah mata,” tegas Ratih.
Ia berharap, dengan hadirnya Voice Institute Surabaya diharapkan bisa mengangkat standar industri VO di daerah. Karena, dengan hadirnya Voice Institute di daerah, pelaku VO yang selama ini kesulitan untuk sharing bisa bertemu langsung dengan mentor yang handal dari Jakarta.
[berita-terkait number=”4″ tag=”fashion”]
“Tidak semua teman daerah kan punya kesempatan ke Jakarta. Kekurangan di Daerah itu itu aksesnya. Kita ingin memfasilitasi teman-teman daerah agar punya standar yang sama,” pungkasnya.
Dalam acara ini, para peserta yang datang bukan saja dari Jawa Timur. Namun, peserta dari Jawa Tengah juga hadir ke Surabaya untuk mengikuti kelas. Para peserta tampak antusias mengikuti pelatihan yang menghadirkan talent VO dan sosial media terkenal seperti, Bimo Kusumo Yudo, Binta Nadhila, Leyla Aderina dan Ramadhanu Rizkinuriza. [ang/but]






