Surabaya (beritajatim.com) – Beberapa hari terakhir, jagat media sosial dihebohkan dengan beredarnya video yang diklaim menampilkan seorang pelatih paus orca bernama Jessica Radcliffe yang tewas diserang hewan latihannya sendiri. Video tersebut menyebar cepat di TikTok, Facebook, maupun Instagram, disertai narasi dramatis bahwa sang pelatih tewas karena diserang paus orca saat sedang menstruasi.
Namun, benarkah kejadian ini nyata?
Dalam video yang beredar luas, Jessica digambarkan sebagai pelatih orca yang telah bertahun-tahun bekerja melatih mamalia laut raksasa tersebut. Namun, ironisnya, ia justru dilaporkan meregang nyawa akibat serangan dari paus orca ketika sedang berada di dalam kolam bersama hewan tersebut.
Narasi yang dibangun menyebutkan bahwa serangan terjadi karena Jessica tengah mengalami menstruasi, sehingga paus orca yang disebut-sebut memiliki insting predator ‘mencium bau darah’ dan menyerangnya secara brutal. Video memperlihatkan sosok wanita yang tampak berlumuran darah dan adegan mengerikan yang menimbulkan simpati sekaligus rasa takut dari para penonton.
Namun, fakta-fakta yang ada ternyata berbeda jauh dari apa yang ditampilkan di video. Dikutip dari media terpercaya seperti Hindustan Times dan Forbes, Selasa (12/8), diketahui bahwa video-video yang menampilkan peristiwa tragis tersebut adalah hasil rekayasa teknologi Artificial Intelligence (AI). Tidak ditemukan bukti bahwa terdapat pelatih paus orca bernama Jessica Radcliffe. Bahkan, sejumlah pemeriksaan menyebutkan bahwa sosok Jessica tersebut fiktif dan tidak ada dalam catatan resmi lembaga pelatihan satwa laut manapun.
Lebih jauh, Forbes melaporkan bahwa video viral itu merupakan hasil manipulasi teknologi Artificial Intelligence (AI). Dalam dunia digital saat ini, teknologi AI mampu menciptakan visual yang tampak realistis, termasuk simulasi video dengan latar belakang narasi yang menyesatkan. Pakar menyebut, video-video semacam ini masuk dalam kategori deepfake, yakni rekayasa digital untuk memalsukan konten secara visual dan audio.
Meskipun teknologi tersebut semakin canggih, sebagian besar video AI masih belum mampu sepenuhnya melewati Uncanny Valley, yaitu kondisi di mana visual tampak nyaris realistis namun tetap terasa “asing” dan tidak alami. Hal ini menjadi celah bagi para pengguna berpengalaman untuk mendeteksi kejanggalan.
Beredarnya video ini menimbulkan reaksi beragam dari publik. Sebagian warganet langsung mempercayainya tanpa melakukan verifikasi, namun tidak sedikit pula yang curiga sejak awal bahwa konten tersebut adalah hasil AI.
“Jelas-jelas bohong, AI,” tulis salah satu pengguna dengan nama akun @habo*** di kolom komentar. (fyi/but)






