Surabaya (beritajatim.com) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dengan tegas membantah informasi yang beredar di media sosial mengenai suhu ekstrem di Surabaya yang mencapai 42 derajat Celsius hingga tanggal 10 Oktober 2023. Menurut BMKG, informasi tersebut tidak benar.
Sumber data yang dikutip oleh beberapa akun media sosial adalah laman Accuweather, yang mengandalkan prakiraan model cuaca global dengan tingkat kesalahan yang masih tinggi.
Kasi Data dan Informasi BMKG Juanda, Teguh Tri Susanto menjelaskan bahwa semakin jauh hari yang diprakirakan dari model awal, maka tingkat kesalahan prediksi cuaca akan semakin tinggi.
Baca Juga: Wisata Pantai Dampar Lumajang: Harga Tiket, Lokasi, dan Daya Tariknya
Pihaknya menyatakan bahwa mereka tidak memiliki informasi mengenai tingkat akurasi data yang disediakan oleh Accuweather. Sebaliknya, BMKG mengandalkan data pengamatan mereka sendiri, yang dalam beberapa hari terakhir mencatat suhu maksimum di wilayah Surabaya dan sekitarnya hanya mencapai 35 derajat Celsius.
“Kami tidak mengetahui bagaimana tingkat akurasi dari data yang disampaikan oleh pihak penyedia layanan informasi cuaca tersebut,” jelasnya.
Menurutnya, informasi yang beredar tidak benar karena didasarkan pada data yang belum terbukti validitasnya dan memiliki tingkat kesalahan yang cukup besar. Prediksi BMKG untuk tanggal tersebut adalah suhu tertinggi hanya mencapai 37 derajat di wilayah Semarang, bukan 42 derajat di Surabaya.
Peningkatan suhu di Surabaya pada bulan Oktober menurutnya adalah hal yang wajar, karena posisi matahari memasuki garis astronomis wilayah Jawa Timur. Suhu rata-rata Surabaya biasanya berkisar antara 33-34 derajat Celsius, tetapi saat ini naik menjadi 34-36 derajat Celsius.
“Suhu tertinggi yang pernah tercatat di bulan Oktober adalah 37,5 derajat Celsius pada tahun 2021. Hal ini adalah fenomena alami dan masih berada dalam ambang batas suhu normal,” terangnya.
Suhu di Surabaya diperkirakan akan kembali normal saat awal November ketika posisi matahari menjauhi lintang astronomi wilayah Jawa Timur menuju selatan.
Selain itu, BMKG juga memberikan peringatan mengenai masa pancaroba yang akan datang dari Oktober hingga November, yang sering kali menyertai peralihan dari musim kemarau ke musim hujan.
“Masa pancaroba ini dapat membawa cuaca ekstrem seperti angin kencang terutama menjelang sore hari,” jelas Teguh.
Dalam menghadapi masa pancaroba, warga diimbau untuk melakukan persiapan seperti memeriksa kondisi pohon dan memangkasnya jika sudah terlalu rindang atau rapuh, serta memeriksa atap rumah terutama jika terbuat dari bahan ringan. (fyi/ian)






