Ponorogo (beritajatim.com) – Belum genap setahun kehilangan ayah, empat anak di Desa Banggel, Kecamatan Slahung, Ponorogo, kini harus menghadapi kenyataan pahit ditinggal ibu mereka untuk selama-lamanya.
Lu’luatun Nikmah meninggal dunia di atas sepeda motor saat hendak mencari pengobatan, Sabtu (17/10/2026). Kepergian sang ibu membuat anak-anak yang masih membutuhkan kasih sayang dan pendampingan orang tua itu harus melanjutkan hidup dengan kondisi yang tak mudah.
Kisah pilu tersebut mengundang perhatian Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita yang datang bersama jajaran Forkopimda untuk menyambangi rumah duka, sekaligus memastikan masa depan keempat anak itu tetap mendapat perhatian, pengasuhan, dan kesempatan melanjutkan pendidikan.
Dalam kunjungan tersebut, Lisdyarita tidak hanya menyampaikan belasungkawa kepada keluarga. Dia juga menyerahkan bantuan berupa persiapan beasiswa, mainan, serta perlengkapan sekolah untuk menunjang kebutuhan anak-anak almarhumah.
Menurutnya, kehilangan orang tua menjadi pukulan berat bagi anak-anak yang masih membutuhkan kasih sayang dan pendampingan. Karena itu, pemerintah daerah ingin memastikan mereka tidak menghadapi masa sulit tersebut sendirian.
“Hari ini, saya hadir untuk mengunjungi empat anak yang harus menghadapi kenyataan berat, kehilangan orang tua (Bu Lulu dan Bapak Syamsudin, red) yang menjadi tempat mereka bernaung, mendapatkan kasih sayang, dan menggantungkan harapan,” kata Lisdyarita, Rabu (21/10/2026).
Dia menegaskan, perhatian terhadap anak-anak tersebut tidak boleh berhenti pada kunjungan dan pemberian bantuan sesaat. Pemerintah daerah akan mendorong perangkat daerah terkait, bersama pemerintah desa dan masyarakat untuk ikut memastikan kebutuhan mereka terpenuhi.
Aspek pengasuhan, perlindungan, hingga pendidikan menjadi hal yang perlu diperhatikan secara berkelanjutan. Lisdyarita berharap kepedulian berbagai pihak bisa membantu anak-anak tersebut melewati masa kehilangan dan tetap memiliki harapan untuk masa depan.
“Saya ingin mereka tahu bahwa mereka tidak sendirian. Masih ada keluarga, masyarakat, dan pemerintah yang peduli serta siap membantu sesuai dengan kemampuan dan kewenangan yang ada,” ungkapnya.
Dalam kunjungan itu, Lisdyarita didampingi Kapolres Ponorogo beserta jajaran, Danramil, Dinas Sosial, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), camat, lurah, serta perangkat lingkungan setempat. Mereka melihat langsung kondisi keluarga dan mendoakan almarhumah agar mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT.
Lisdyarita juga meminta seluruh pihak yang memiliki kepedulian sosial untuk bersama-sama membantu memenuhi kebutuhan anak-anak tersebut. Langkah itu diharapkan menjadi bentuk pendampingan nyata, bukan sekadar respons, setelah kisah mereka ramai diperbincangkan.
Semula, Lisdyarita mengira keempat anak tersebut tidak memiliki pendamping yang dapat merawat mereka, setelah kedua orang tuanya meninggal dunia. Dia bahkan mempertimbangkan agar anak-anak itu mendapatkan kesempatan bersekolah di Sekolah Rakyat (SR) Ponorogo dengan pengawasan pemerintah daerah.
Namun, setelah mengetahui kondisi keluarga secara langsung, ternyata mereka masih tinggal bersama bude-nya yang siap menjaga dan membesarkan mereka. Keberadaan keluarga tersebut, menjadi salah satu penopang penting agar anak-anak tetap memperoleh pengasuhan di lingkungan terdekat.
“Tadinya saya pikir anak-anak ini tidak ada yang menjaga, menemani, dan mendampingi. Sehingga akan kami titipkan di Sekolah Rakyat Ponorogo yang akan kami pantau untuk masa depannya. Ternyata anak-anak tinggal bersama budenya. Jadi masih ada bude-budenya yang siap menjaga dan membesarkan anak-anak almarhumah Ibu Lulu,” jelasnya.
Meski sudah ada keluarga yang bersedia mengasuh, Lisdyarita menilai dukungan dari pemerintah dan masyarakat tetap dibutuhkan. Terlebih, keempat anak tersebut kini harus melanjutkan kehidupan tanpa kehadiran kedua orang tua.
Bantuan pendidikan dan kebutuhan sehari-hari diharapkan dapat meringankan beban keluarga yang merawat mereka. Pemerintah daerah juga menginginkan agar kesempatan anak-anak untuk bersekolah dan meraih cita-cita tidak terhambat oleh keadaan.
“Semoga bantuan yang diberikan hari ini dapat sedikit meringankan beban mereka. Yang lebih penting, semoga perhatian dan kasih sayang dari kita semua bisa menjadi penguat bagi mereka untuk terus melangkah,” ungkap Lisdyarita.
Dia menambahkan, kepedulian terhadap anak yatim piatu merupakan tanggung jawab bersama. Dukungan tersebut diperlukan agar anak-anak tetap merasa memiliki tempat untuk bersandar, meskipun telah kehilangan orang tua.
Lisdyarita berharap keluarga, masyarakat, dan pemerintah bisa terus berjalan bersama dalam mendampingi mereka. “Kita ingin memastikan bahwa tidak ada anak di Ponorogo yang merasa sendirian menghadapi masa depannya,” tegasnya.
Lisdyarita juga mendoakan agar almarhumah Lu’luatun Nikmah mendapat husnul khatimah. Dia berharap keempat anak yang ditinggalkan dapat menjalani masa sulit ini dengan kuat dan sabar. Menurutnya, kesempatan untuk terus belajar harus tetap terbuka agar mereka bisa meraih cita-cita.
“Semoga Ibu Lulu husnul khatimah, dan anak-anak bisa kuat, sabar untuk bisa melanjutkan sekolah sampai mencapai cita-cita,” pungkasnya.
Sebelumnya, Lu’luatun Nikmah, warga Desa Banggel, Kecamatan Slahung, ditemukan meninggal dunia di atas sepeda motor di kawasan Desa Jebeng, Kecamatan Slahung, pada Sabtu (17/10/2026) sekitar pukul 17.00 WIB.
Saat itu, dia sedang dalam perjalanan untuk memeriksakan keluhan penyakit lambung ke bidan di Desa Gombang. Anak bungsunya yang berusia sekitar 3,5 tahun turut serta dalam perjalanan tersebut. Berdasarkan pemeriksaan awal petugas kepolisian dan tim medis Puskesmas Slahung, korban dinyatakan meninggal dunia secara wajar akibat sakit, sesuai keterangan yang dibenarkan pihak keluarga.
Kapolsek Slahung AKP Pitoyo sebelumnya menyampaikan bahwa Lu’luatun telah menjadi orang tua tunggal sejak suaminya, Syamsudin, meninggal dunia sekitar setahun lalu. Kepergian Lu’luatun membuat empat anak mereka kehilangan kedua orang tua.
Tiga anak lainnya diketahui sedang menempuh pendidikan di pondok pesantren, sedangkan anak bungsunya ikut bersama korban saat peristiwa itu terjadi. [end/suf]






