Bondowoso, (beritajatim.com) — Upaya penguatan mitigasi bencana terus dilakukan Pemerintah Kabupaten Bondowoso. Salah satunya melalui aksi penanaman 2.000 pohon di kawasan situs Kodedek, Desa Gunungsari, Kecamatan Maesan, Kamis, 22 Januari 2026. Kegiatan ini digelar menyusul dua kejadian banjir bandang yang melanda wilayah tersebut sepanjang tahun 2025 lalu.
Plt Kalaksa BPBD Bondowoso, Kristianto, mengatakan penanaman pohon menjadi langkah konkret dalam mengurangi risiko bencana hidrometeorologi. Kegiatan bertema “Mulai Menanam Pohon untuk Investasi Kehidupan” ini melibatkan 22 lembaga lintas sektor dengan dukungan ratusan relawan.
“Hari ini kita menanam 2.000 pohon. Ini bukan sekadar kegiatan simbolik, tetapi investasi kehidupan. Sebanyak 22 lembaga terlibat dan ratusan relawan bergerak bersama menanam pohon di kawasan rawan bencana,” ujar Kristianto.
Ia menegaskan, penguatan vegetasi di wilayah hulu dan daerah tangkapan air menjadi kunci untuk menekan potensi banjir dan longsor yang kerap terjadi akibat kerusakan lingkungan.
Administratur Perhutani Bondowoso, Misbakhul Munir, menyampaikan bahwa Bondowoso memiliki kawasan hutan seluas 59 ribu hektare, yang terdiri dari 29.600 hektare hutan lindung dan 30.300 hektare hutan produksi. Untuk menjaga kelestariannya, Perhutani terus mendorong program tanam berkelanjutan.
“Tagline kami “Muda Menanam, Tua Memanen”. Tahun 2026 kami menargetkan penanaman seluas 235 hektare dengan total 235 ribu pohon. Sementara pada tahun 2025, realisasi tanam mencapai 221 hektare dengan 221 ribu pohon, atau rata-rata 1.000 pohon per hektare,” jelas Misbahul.
Ia juga mengajak masyarakat memanfaatkan kawasan hutan secara produktif melalui tanaman buah-buahan dan tanaman bernilai ekonomi lainnya, tanpa mengabaikan prinsip kelestarian.
Sekretaris Daerah Bondowoso, Fathur Rozi, menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan wujud nyata sinergi dan kolaborasi lintas sektor dalam menjaga lingkungan.
Ia mengingatkan bahwa Desa Gunungsari termasuk wilayah rawan bencana, dengan dua kali kejadian banjir bandang pada tahun lalu.
“Ini bukan sekadar menanam pohon, tetapi investasi masa depan. Dengan menanam pohon, kita berupaya mencegah agar bencana serupa tidak terulang di masa yang akan datang,” kata Fathur.
Ia memastikan gerakan penanaman pohon tidak berhenti di Gunungsari, melainkan akan dilanjutkan ke titik-titik lain di Bondowoso sebagai bagian dari upaya membangun daerah yang berkah dan berkemajuan. “Sinergi ini harus terus kita tingkatkan dan tidak selesai di satu lokasi saja,” katanya.
Aksi sosial tersebut menganut konsep Pentahelix. Unsur media ikut terlibat. Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Bondowoso turut andil dalam giat tersebut.
Ketua JMSI Bondowoso, Bahrullah berpendapat, sebagai organisasi perusahaan media di bawah naungan Dewan Pers, pihaknya memiliki tanggungjawab moril dalam menyuarakan dan mengedukasi masyarakat perihal pelestarian lingkungan.
“Tidak hanya sebatas mempublikasi karya jurnalistik saja. Lebih dari itu juga melalui aksi nyata di lapangan. Karena tauladan yang baik lahir dari tindakan,” pungkas Bahrullah. (awi/but)






