Mojokerto (beritajatim.com) – Dilihat dari perspektif jumlah populasi sapi dan besaran produksi daging, Jawa Timur (Jatim) menjadi backbone (tulang punggung) pemenuhan kebutuhan nasional. Lebih dari 20 persen kebutuhan daging nasional dipasok dari para peternak sapi di Jawa Timur.
Di Kabupaten Mojokerto, sapi potong menjadi komoditas peternakan terbesar kedua setelah ayam ras pedaging. Data Dinas Peternakan (Disperta) Kabupaten Mojokerto mencatat, produksi daging mencapai 926.566 kg pada 2021, meningkat jadi 986.244 kg di 2022, dan kembali naik menjadi 1.064.065 kg. Sementara di 2024 ini sampai September, produksi daging sapi di Mojokerto sudah mencapai 905.388 kg.
Tetapi peningkatan produksi tersebut tidak linear dengan populasi sapi potong di Kabupaten Mojokerto. Pada kurun Waktu 2021 hingga 2023, populasi sapi potong justru memperlihatkan tren penurunan.
Mari tengok data Disperta Mojokert0. Tingkat populasi sapi potong tercatat sebanyak 50.396 ekor di 2021, turun jadi 39.662 ekor di 2022, turun lagi menjadi 36.210 ekor di 2023. Sedangkan tahun ini sampai September hanya ada 37.309 ekor sapi potong.
Tren penurunan ini pun menjadi perhatian khusus Disperta Mojokerti. Untuk meningkatkan populasi dan mutu ternak, Disperta Mojokerto mengandalkan petugas Balai Penyuluh Pertanian (BPP) di masing-masing kecamatan. Petugas BPP yang ada di tiap kecamatan seluruh Mojokerto tersebut menjadi ujung tombak.
Plt Kepala Bidang (Kabid) Perternakan Disperta Kabupaten Mojokerto, Tutik Suryaningdyah mengatakan, pihaknya terus melakukan upaya untuk peningkatan mutu genetik sapi potong maupun sapi perah. Ini demi meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi daging maupun susu.
“Untuk meningkatkan kualitasnya dengan mengadakan sosialisasi budidaya sapi perah muapun potong yang benar. Mulai dari peningkatan manajemen pemeliharaan, manajemen pakan. Kemudian pencegahan dan pengendalian penyakit melalui sosialiasi-sosialiasi,” ungkapnya, Selasa (12/12/2024).
Melalui petugas BPP di tiap kecamatan, Disperta Kabupaten Mojokerto melakukan pendampingan kepada para peternak untuk meningkatkan baik populasi maupun mutu ternak. Petugas BPP melakukan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) kepada peternak.
“Jumlah petugasnya tidak sama, melihat jumlah peternak di kecamatan tersebut. Mereka adalah ujung tombak Dinas Pertanian dalam mendampingi peternak maupun petani dan masing-masing petugas mempunyai wilayah binaan. Satu kecamatan, misalnya, ada lima petugas untuk berapa desa yang ada Gapoktannya,” katanya.
Kabid Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Feteriner ini menjelaskan, masing-masing diberi tanggungjawab di desa-desa tersebut. Pendampingan yang dilakukan petugas BPP melalui sosialiasi yang bisa dilakukan sembari mereka ke lapangan atau ada waktu yang sudah dijawabkan.
“Karena petugas juga memiliki kelompok tani. Di dalam kelompok tani itu termasuk peternakan, perkebunan, perkebunan. Mereka sebagai pendamping untuk petani tanaman, peternak maupun perkebunan. Jadi tidak berdiri sendiri-sendiri, namun satu kesatuan. Mendampingi petani tanaman, peternak dan petani perkebunan,” jelasnya.
Sebaran Populasi Ternak di Kabupaten Mojokerto
Sementara, populasi hasil peternakan di Kabupaten Mojokerto terbanyak adalah sapi, kambing, dan ayam. Dari tiga jenis hewan ternak itu, sapi pedaging, ayam pedaging, dan ayam petelur memiliki jumlah yang dominan. Jumlah populasi hasil peternakan di Kabupaten Mojokerto tersebut setiap tahun mengalami peningkatan.
Tutik Suryaningdyah menjelaskan, sapi potong tersebar di 18 kecamatan seluruh Mojokerto. Hanya saja, populasi di masing-masing kecamatan berbeda. Jumlah sapi terbanyak ada di Kecamatan Dawarblandong, Jetis, dan Trawas. Dawarblandong memang dikenal sebagai rumah Rojo Koyo (hewan ternak mamalia) untuk Mojokerto. Sapi yang dipelihara di kecamatan ini hampir semua bagiannya memiliki nilai tambah.
“Menjadi investasi warga karena lebih mudah, meski di Dawarblandong cenderung kering tapi pakan rumput bisa dicari dari luar dawarblandong. Tidak hanya rumput, dari kangkung dan lainnya. Untuk populasi kambing tersebar, terbanyak ada di Kecamatan Trawas dan Pacet, untuk ayam buras terbanyak ada di Kecamatan Jatirejo, Puri dan Mojoanyar,” jelasnya.
Sedangkan populasi ayam petelur terbanyak ada di Kecamatan Gondang, Jetis, dan Kutorejo. Populasi itik non Mojokerto terbanyak di Kecamatan Gondang.
Populasi sapi potong di Kabupaten Mojokerto tahun 2021 sebanyak 50.396 ekor, tahun 2022 sebanyak 39.662 ekor, tahun 2023 sebanyak 36.210 ekor. Tahun ini sampai September sebanyak 37.309 ekor.
Sedangkan, populasi sapi perah di Kabupaten Mojokerto tahun 2021 sebanyak 2.244 ekor, tahun 2022 sebanyak 1.302 ekor. Tahun 2023 sebanyak 1.243 ekor dan tahun 2024 hingga September sebanyak 1.346 ekor. Populasi kambing tahun 2021 sebanyak 40.393 ekor.
Tahun 2022 sebanyak 37.947 ekor, tahun 2023 sebanyak 34.889 ekor dan 2024 sampai bulan September 2024 sebanyak 36.678 ekor. Sementara, populasi ayam buras tahun 2021 sebanyak 678.463 ekor, tahun 2022 sebanyak 616.770 ekor, tahun 2023 sebanyak 412.410 ekor dan 2024 sampai bulan September 2024 sebanyak 379.589 ekor.
Untuk populasi ayam petelur tahun 2021 sebanyak 946.855 ekor, tahun 2022 sebanyak 669.485 ekor, tahun 2023 sebanyak 731.320 ekor dan 2024 sampai bulan September 2024 sebanyak 728.919 ekor. Populasi ayam pedaging di Kabupaten Mojokerto tahun 2021 sebanyak 10.414.545 ekor, tahun 2022 sebanyak 10.371.907 ekor.
Tahun 2023 sebanyak 18.114.250 ekor dan 2024 sampai bulan September 2024 sebanyak 11.993.350 ekor. Populasi itik Mojosari di Kabupaten Mojokerto tahun 2021 dan tahun 2022 masih digabung dengan itik non Mojokerto, tahun 2023 sebanyak 53.115 ekor dan 2024 sampai bulan September 2024 sebanyak 122.080 ekor.
Populasi itik non Mojosari di Kabupaten Mojokerto tahun 2021 sebanyak 323.968 ekor, tahun 2022 sebanyak 299.517 ekor, tahun 2023 sebanyak 201.525 ekor dan 2024 sampai bulan September 2024 sebanyak 219.078 ekor. Selain itu, di Kabupaten Mojokerto juga terdapat potensi peternakan hewan lainnya. Seperti burung dara, burung puyuh, kelinci, entok dan domba.
Ayam Ras, Penyumbang Terbanyak Daging
Produksi daging ternak terbanyak di Kabupaten Mojokerto adalah ayam ras pedaging yang setiap tahun mengalami peningkatan. Dari 19.730.149 kg di tahun 2021 meningkat menjadi 25.049.860 kg di tahun 2022 dan 44.279.655 kg di tahun 2023 dan hingga September 2024 ada sebanyak 35.483.425 kg.
Selain ayam ras pedaging, terbanyak kedua penghasil daging di Kabupaten Mojokerto yakni sapi potong. Di tahun 2021 ada sebanyak 926.566 kg, tahun 2022 sebanyak 986.244 kg, tahun 2023 sebanyak 1.064.065 kg dan tahun 2024 sampai bulan September ada sebanyak 905.388 kg. Disusul daging kambing yakni tahun 2021 sebanyak 395.537 kg.
Tahun 2022 sebanyak 325.317 kg, tahun 2023 sebanyak 593.818 kg dan Januari hingga September 2024 ada sebanyak 575.152 kg. Untuk daging itik di Kabupaten Mojokerto naik turun, pada tahun 2021 ada sebanyak 764.975 kg, di tahun 2022 turun menjadi 626.947 kg. Sementara tahun 2023 naik menjadi 816.473 kg dan hingga September 2024 sebanyak 475.418 kg.
Sedangkan untuk produksi telur di Kabupaten Mojokerto terbanyak dihasilkan dari ternak ayam petelur. Namun jumlah setiap tahunnya juga naik turun, seperti di tahun 2021 ada sebanyak 9.217.531 kg yang turun di tahun 2022 menjadi 8.482.242 kg. Tahun 2023 mengalami kenaikan menjadi 10.017.630 kg.
Hingga September 2024 sebanyak 6.719.226 kg. Disusul ternak itik meskipun setiap tahun mengalami penurunan. Tahun 2021 sebanyak 2.273.137 kg menjadi 2.135.746 kg di tahun 2022. Tahun 2023 sebanyak 2.001.347 kg dan hingga September 2024 sebanyak 1.510.398 kg.
Sementara untuk produksi susu di Kabupaten Mojokerto terbanyak masih dihasilkan sapi perah. Tahun 2021, produksi susu di Kabupaten Mojokerto sebanyak 4.364.254 kg. Tahun 2022 sebanyak 3.211.680 kg, tahun 2023 sebanyak 4.844.534 kg dan hingga September 2024 yakni sebanyak 1.949.984 kg.
Tutik menambahkan, ternak sapi di Kabupaten Mojokerto diketegorikan sapi potong dan dikembangbiakan. Para peternak di Kabupaten Mojokerro biasanya jual beli per ekor di pasar. Sementara untuk daging, sapi milik para pertenak ada yang disembelih di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) maupun
“Kita, Kabupaten Mojokerto ada lima RPH dengan rata-rata satu ekor per hari. Dengan populasi sapi di Kecamatan Dawarblandong yang banyak, tidak mungkin semua dilakukan pemotongan ke RTH yang memiliki kapasitas sedikit. Sehingga para petani menjual dalam bentuk ternak, jual beli dilakukan di pasar ternak,” tegasnya. [tin/beq]






