Surabaya (beritajatim.com) – Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) membangun Dapur Pemberian Makanan Bayi dan Anak (PMBA) pascabencana banjir dan longsor di Pantee Lhong, Kabupaten Bireuen, Aceh.
Pembangunan dapur ini sebagai upaya pemenuhan gizi dan layanan kesehatan bagi kelompok rentan dalam situasi pascabencana. Di mana, program ini menyasar bayi, anak, ibu hamil dan menyusui, serta kelompok dengan keterbatasan akses layanan dasar.
Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unusa, Achmad Syafiuddin, menyebut bahwa kehadiran Dapur PMBA diarahkan untuk menjawab kebutuhan dasar kelompok rentan yang kerap terabaikan dalam masa krisis.
“Dalam situasi bencana maupun pascabencana, kelompok rentan sering kali menjadi pihak yang paling terdampak, namun justru paling mudah terabaikan. Melalui pembangunan Dapur PMBA ini, Unusa ingin memastikan hak dasar mereka terkait gizi dan kesehatan tetap terpenuhi,” ujar Syafiuddin, Rabu (24/12/2025).
Ia menjelaskan, dapur tersebut tidak hanya berfungsi sebagai penyedia makanan bergizi bagi bayi dan anak, tetapi juga menjadi sarana edukasi pemberian makan yang sesuai standar kesehatan serta praktik sanitasi yang aman di lingkungan masyarakat.
Menurutnya, pendekatan yang diterapkan bersifat berkelanjutan dengan melibatkan masyarakat setempat. Selain pembangunan sarana, tim Unusa melakukan pendampingan dan edukasi agar pengelolaan dapur dapat berjalan mandiri.
“Kami tidak berhenti pada pembangunan fisik. Ada edukasi gizi, pendampingan praktik PMBA yang benar, serta penguatan kapasitas masyarakat agar program ini dapat terus berjalan,” katanya.
Syafiuddin menambahkan, kelompok rentan kerap menghadapi hambatan mobilitas dan akses layanan saat terjadi bencana, sehingga membutuhkan pendekatan yang lebih inklusif dalam penanganan kesehatan masyarakat.
Dapur PMBA Unusa di Bireuen diharapkan dapat dimanfaatkan tidak hanya dalam kondisi darurat, tetapi juga pada masa normal sebagai pusat layanan gizi berbasis komunitas. Model ini juga diproyeksikan dapat direplikasi di wilayah lain yang rawan bencana.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat yang dilaksanakan Unusa bersama Dinas Kesehatan Bireuen serta mendapat pendanaan dari Kemendiktisaintek. [ipl/but]






