Bojonegoro (beritajatim.com) – Baru pertama kali, Tangkis, petani asal Desa Gayam, Kecamatan Gayam Kabupaten Bojonegoro menanam semangka. Dari hasil panen semangka, petani di sekitar lapangan minyak Banyu Urip Blok Cepu itu meraup banyak untung.
Pria yang lahir 65 tahun lalu itu baru saja panen 1,6 ton semangka dari lahan seluas 2 ribu meter persegi miliknya. Bulan depan, Tangkis masih akan terus panen dari sisa lahan yang seluruhnya 1 hektar itu.
“Dengan modal Rp1 juta, saya bisa jual semangka hingga Rp7 juta dan buah terjual habis dibeli masyarakat sekitar,” ujarnya, Selasa (17/9/2024).
Tangkis baru pertama ini menanam semangka. Pilihan ini dia ambil karena masa tanam yang pendek, hanya 2 bulan. Jauh lebih cepat ketimbang menanam jagung.
Kebutuhan airnya juga tidak terlalu banyak. Sangat cocok untuk lahan tadah hujan milik Tangkis.
Setiap hari Tangkis cukup menyiraminya secara manual dengan air yang dia angkut dari sumber air di dusun sebelah. “Alhamdulillah hasil panen ini sangat menguntungkan, karena kami menerapkan pertanian ekologis ramah lingkungan,” tambahnya.
Dengan metode pertanian ekologis ramah lingkungan, Tangkis mulai meninggalkan pupuk dan obat kimia. Sehingga biaya operasional sangat murah dan mudah. Dia menggunakan agen hayati dan pupuk kompos yang dia buat sendiri.
Metode pertanian ekologis ramah lingkungan ini dia pelajari dari Program Sekolah Lapang Pertanian yang diprakarsai operator Lapangan Banyu Urip, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL). Bermitra dengan Yayasan Daun Bendera, EMCL mendampingi para petani sekitar wilayah operasi Lapangan Banyu Urip.
Lebih dari 400 petani dari Kecamatan Gayam dan Kalitidu telah menerima manfaat dari program ini.
Saat mengikuti panen bersama, Camat Gayam, Palupi Hadi Pratih Dewanti mengapreasi program ini. Menurutnya, selain mampu meningkatkan taraf ekonomi petani, program ini juga mendorong pemulihan lahan yang selama ini telah berkurang kesuburannya.
“Kami mendorong pihak desa agar membantu petani untuk terus bisa menerapkan metode ini di luar program dari EMCL,” ujarnya.
Camat berharap, semakin banyak petani yang mau menerapkan metode ini. Karena mengurangi pupuk dan obat kimia berarti hasil buahnya pun lebih sehat.
Sementara itu, perwakilan EMCL, Ali Mahmud mengatakan bahwa Program Sekolah Lapangan Pertanian merupakan komitmen industri hulu migas dalam mendukung upaya Pemerintah untuk meningkatkan taraf ekonomi masyarakat sekitar wilayah operasi.
“Kami berharap agar pertanian ramah lingkungan ini bisa berkelanjutan dan memberi manfaat luas bagi para petani,” pungkasnya. [lus/beq]






