Ringkasan Berita:
- Untag Surabaya merilis film pendek berjudul Kita yang Menulis Cerita di Auditorium Gedung Grha Wiyata, Jumat (14/8/2026).
- Film tersebut menjadi media kampus untuk menyosialisasikan nilai kejujuran dan antikekerasan kepada generasi Z.
- Cerita film mengangkat isu sensitif di lingkungan pendidikan, termasuk perundungan dan kekerasan seksual.
- Produksi film melibatkan mahasiswa dari UKM Sinematografi, Teater, Lensa 17, dan Musik dengan sutradara alumni Untag Surabaya.
Surabaya (beritajatim.com) – Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya merilis film pendek berjudul Kita yang Menulis Cerita. Film tersebut menjadi media baru kampus untuk menyosialisasikan nilai kejujuran, keterbukaan, hingga antikekerasan kepada generasi Z.
Peluncuran film berlangsung di Auditorium Gedung Grha Wiyata Untag Surabaya pada Jumat (14/8/2026). Karya tersebut menjadi bagian dari upaya kampus menginternalisasikan lima nilai dasar yang dimiliki Untag Surabaya sekaligus memperkenalkannya kepada masyarakat luas.
Rektor Untag Surabaya Harjo Seputro mengatakan film dipilih sebagai medium untuk membawa kehidupan dan nilai-nilai kampus lebih dekat dengan masyarakat.
“Ini adalah pemikiran baru bagi kami, bagaimana karya dan kehidupan kampus bisa dinikmati masyarakat luas,” kata Harjo.
Film Kita yang Menulis Cerita secara khusus mengangkat sejumlah isu sensitif yang dapat muncul dalam lingkungan pendidikan, termasuk perundungan dan kekerasan seksual. Untag Surabaya memilih pendekatan film karena dinilai lebih dekat dengan karakter generasi muda dibandingkan penyampaian informasi melalui media konvensional seperti brosur.
“Itu bagian dari komitmen kami untuk jujur, terbuka, dan tidak tabu berdiskusi. Secara data, Gen Z memang menyukai medium ini,” tegasnya.
Wakil Rektor II Untag Surabaya Supangat menjelaskan alur cerita dalam film tersebut banyak merespons berbagai fenomena yang terjadi secara nasional. Karakter dalam film kemudian menunjukkan cara menghadapi dan menyelesaikan persoalan melalui pendekatan nilai-nilai luhur yang dikembangkan kampus.
“Bagaimana kita menyikapi sebuah masalah, nah itu bisa ada solusinya seperti dalam ending alur cerita tadi,” ujar Supangat.
Produksi film pendek tersebut sepenuhnya mengandalkan potensi dan bakat dari lingkungan internal Untag Surabaya. Sutradara film merupakan alumni, sementara para pemeran berasal dari mahasiswa yang aktif di berbagai unit kegiatan kampus.
“Ada dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Sinematografi, Teater, Lensa 17, dan Musik. Ini upaya meningkatkan kompetensi mereka,” tambahnya.
Keterlibatan mahasiswa dari berbagai bidang tersebut membuat produksi film sekaligus menjadi ruang pengembangan kompetensi bagi mahasiswa. Mereka tidak hanya terlibat sebagai pemeran, tetapi juga menjadi bagian dari proses kreatif dan produksi karya audiovisual.
Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya Herry Purwadi mengapresiasi langkah Untag Surabaya memproduksi film pendek. Ia mendorong sineas muda kampus terus menghasilkan karya lokal berkualitas.
“Kalian berkarya untuk kampus, oke. Tetapi komunikasikan dengan rekan-rekan yang ada di pariwisata karena industri kreatif membidangi film,” papar Herry.
Herry juga mengapresiasi keberanian Untag Surabaya mengangkat isu pelecehan seksual dalam film. Menurutnya, tema tersebut memiliki keterkaitan dengan pengalaman Pemerintah Kota Surabaya dalam menangani persoalan serupa.
“Kami berharap dengan adanya insan perfilman dan seni budaya di Surabaya, kita bisa saling bersinergi,” ucapnya.
Penggarapan Kita yang Menulis Cerita bermula dari dinamika kehidupan dan relasi antarmahasiswa di lingkungan kampus. Sutradara film Rio Eka mengatakan proses kreatif dibangun melalui kolaborasi intensif di antara para pembuat film.
“Inspirasinya berangkat dari realitas kehidupan kampus yang menghadirkan bingkai cerita dengan berbagai dinamika dan muatan kritis,” kata Rio.
Menurut Rio, proses produksi juga memperhatikan terciptanya ruang kerja yang aman bagi seluruh kru. Namun, proses menyatukan beragam perspektif ke dalam satu visi kreatif menjadi tantangan tersendiri selama penggarapan film.
“Tantangannya adalah memadukan ekspektasi dan ego kreatif ke dalam satu wahana film, demi mewujudkan karya yang solid,” pungkasnya. [ipl/beq]






