Surabaya (beritajatim.com) — Di tengah laju pembangunan Surabaya yang terus bergerak cepat, Kampung Peneleh menyimpan ironi yang perlahan mulai terasa. Kawasan yang menyimpan jejak sejarah panjang kota itu menghadapi tekanan perubahan zaman, mulai dari berkurangnya perhatian publik, perubahan fungsi bangunan, hingga minimnya ruang edukasi heritage yang benar-benar menyentuh masyarakat.
Persoalan tersebut menjadi salah satu sorotan dalam kegiatan International Joint Community Service yang digelar Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Untag Surabaya bersama TiMe Amsterdam, Rabu (20/5/2026).
Meski dikemas sebagai forum akademik dan pengabdian masyarakat, kegiatan itu memperlihatkan satu persoalan mendasar bahwa kawasan heritage di Surabaya masih menghadapi tantangan serius untuk tetap hidup di tengah modernisasi kota.
Ketua LPPM Untag Surabaya, Prof. Dr. Slamet Riyadi, M.Si., Ak., CA., CTA., menegaskan perguruan tinggi tidak dapat hanya menjadi penonton dalam isu pelestarian kawasan bersejarah. Menurutnya, kampus harus mampu membawa hasil riset dan keilmuan langsung kepada masyarakat.

Ia menjelaskan pengabdian masyarakat menjadi sarana agar ilmu pengetahuan tidak berhenti sebagai dokumen akademik semata, tetapi benar-benar diterapkan untuk menjawab persoalan sosial dan budaya di lapangan.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi gambaran bahwa pelestarian kawasan heritage masih membutuhkan keterlibatan yang lebih luas, tidak hanya pemerintah tetapi juga perguruan tinggi serta masyarakat sekitar.
Kampung Peneleh sendiri dikenal sebagai salah satu kawasan lama di Surabaya yang memiliki keterkaitan erat dengan sejarah perkembangan kota. Namun di balik nilai historis itu, sejumlah bangunan tua di kawasan tersebut menghadapi tantangan pelestarian akibat faktor usia maupun perubahan tata ruang perkotaan.
Perwakilan TiMe Amsterdam, Petra Timmer, melihat persoalan itu bukan hanya terjadi di Indonesia. Menurutnya, banyak kawasan heritage di berbagai kota dunia menghadapi dilema serupa, antara mempertahankan identitas sejarah atau mengikuti tekanan perkembangan kota modern.
Selama berada di Surabaya, Petra melakukan observasi langsung ke kawasan Peneleh serta berdiskusi bersama mahasiswa dan dosen Untag Surabaya. Ia menilai kawasan tersebut memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai ruang pembelajaran publik berbasis sejarah dan budaya.

Petra juga menegaskan keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan kawasan heritage. Tanpa partisipasi warga, kawasan bersejarah rentan kehilangan makna sosial dan hanya tersisa sebagai simbol fisik semata.
Dalam forum tersebut, Untag Surabaya melibatkan akademisi lintas disiplin, yakni Dr. Ir. R.A. Retno Hastijanti, M.T., Prof. Dr. Made Warka, S.H., M.H., Tigor Wilfritz Soaduon P., S.T., M.T., Ph.D., Dr. Ar. Andarita Rolalisasi, S.T., M.T., IPM., IAI., Dr. Niken Titi Pratitis, S.Psi., M.Si., Psikolog., serta Dr. Rachmawati Novaria, M.M.
Keterlibatan berbagai bidang keilmuan itu menunjukkan bahwa persoalan heritage bukan sekadar urusan arsitektur atau bangunan tua. Di dalamnya terdapat aspek hukum, sosial, psikologis, hingga identitas masyarakat yang ikut dipertaruhkan ketika sebuah kawasan sejarah kehilangan ruang hidupnya.
Pada kesempatan yang sama, Program Studi Arsitektur Untag Surabaya juga meresmikan Berlage’s Corner di Perpustakaan Graha Wiyata. Ruang tersebut disiapkan sebagai pusat literasi sejarah arsitektur sekaligus simbol kecil upaya menjaga ingatan kota di tengah perubahan zaman.
Di balik kegiatan akademik tersebut, muncul satu pesan penting bahwa pelestarian kawasan heritage tidak cukup hanya dibicarakan dalam seminar atau dokumentasi sejarah. Tanpa keterlibatan aktif berbagai pihak, kawasan seperti Peneleh berisiko kehilangan identitasnya sedikit demi sedikit, bahkan sebelum generasi berikutnya benar-benar mengenalnya. [but]







1 Komentar
ini mahasiswa korikulum GK jelas tak mampu memajukan bangsa dengan teknologi sebaiknya diskualifikasi.krna buang anggaran.