Yogyakarta (beritajatim.com)- Meski angka kasus dan kematian akibat dengue di Indonesia menunjukkan tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir, para ahli mengingatkan bahwa ancaman penyakit yang ditularkan melalui nyamuk Aedes aegypti itu masih jauh dari kata usaiaedea. Indonesia bahkan masih tercatat sebagai negara dengan beban dengue tertinggi di Asia Tenggara dan menjadi penyumbang kematian dengue terbesar kedua di dunia.
Fakta tersebut menjadi sorotan dalam seminar dan workshop ASEAN Dengue Day (ADD) 2026 bertema “Menuju Nol Kematian Dengue 2030: Antara Impian atau Kenyataan?” yang digelar di Auditorium Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM).
Kasus Dengue Menurun, Tetapi Ancaman Belum Berakhir
Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menunjukkan adanya perkembangan positif dalam pengendalian dengue. Tingkat kematian akibat penyakit ini turun dari 0,9 persen pada 2021 menjadi 0,4 persen pada 2025.
Selain itu, angka kejadian dengue juga mengalami penurunan signifikan. Pada 2024 tercatat sebanyak 92 kasus per 100.000 penduduk, kemudian menurun menjadi 57 kasus per 100.000 penduduk sepanjang 2025.
Meski demikian, Ketua Tim Kerja Penyakit Akibat Tular Vektor dan Zoonotik, Gigitan Hewan Berbisa dan Tanaman Beracun Direktorat Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan RI, dr. Fadjar SM Silalahi, menegaskan bahwa penurunan tersebut tidak boleh membuat masyarakat maupun pemerintah lengah.
Menurutnya, Indonesia masih memikul beban dengue paling besar di kawasan Asia Tenggara. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengendalian dengue harus tetap menjadi prioritas nasional agar lonjakan kasus tidak kembali terjadi di masa mendatang.
Diagnosis Dini Jadi Penentu Keselamatan Pasien
Salah satu tantangan terbesar dalam menekan angka kematian dengue adalah mengenali penyakit sejak fase awal. Hal itu disampaikan Dosen Departemen Kesehatan Anak FK-KMK UGM, Dr. dr. Ida Safitri Laksanawati, Sp.A(K).
Ia menjelaskan bahwa dengue merupakan penyakit infeksi akut dengan perjalanan yang relatif singkat, umumnya berlangsung kurang dari dua minggu. Karena itu, tenaga kesehatan harus mampu melakukan diagnosis sejak dini, memantau kondisi pasien secara intensif, dan memberikan penanganan yang tepat sebelum kondisi berkembang menjadi berat.
Menurut Ida, fase awal penyakit menjadi periode yang paling sulit karena gejala dengue sering kali menyerupai berbagai penyakit infeksi lain yang juga banyak ditemukan di Indonesia. Kesamaan gejala tersebut berpotensi menyebabkan keterlambatan diagnosis apabila tidak dilakukan pemeriksaan secara cermat.
Sistem Rujukan Dinilai Masih Perlu Diperkuat
Selain aspek klinis, efektivitas sistem rujukan juga menjadi faktor penting dalam menekan risiko kematian akibat dengue.
[irp posts=”1524905″ ]
Dosen Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan FK-KMK UGM, Dr. Diah Ayu Puspandari, Apt., MBA, M.Kes, mengungkapkan hasil kajian yang menunjukkan sekitar 21,8 persen pasien dengue langsung mendatangi rumah sakit tanpa terlebih dahulu memanfaatkan layanan di Puskesmas atau Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP).
Menurutnya, pola tersebut menyebabkan pelayanan kesehatan menjadi kurang efisien dan berdampak pada meningkatnya biaya pengobatan.
Karena itu, diperlukan penguatan layanan primer melalui peningkatan kapasitas FKTP, koordinasi yang lebih baik antar fasilitas kesehatan, ketersediaan transportasi rujukan, peningkatan kualitas rumah sakit rujukan, hingga pemanfaatan sistem informasi kesehatan agar pasien memperoleh penanganan secara cepat dan tepat.
Dengan sistem rujukan yang berjalan optimal, risiko berkembangnya kasus menjadi berat hingga menyebabkan kematian diharapkan dapat ditekan.
Pendanaan Menjadi Kunci Pengendalian Dengue
Persoalan lain yang dinilai tidak kalah penting adalah keberlanjutan pendanaan program pengendalian dengue.
Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Prof. dr. Hasbullah Thabrany, MPH, Dr.PH, menilai target nol kematian dengue pada 2030 tidak akan tercapai apabila hanya mengandalkan kesiapan tenaga medis maupun sistem rujukan.
Menurutnya, pemerintah perlu memastikan dukungan pembiayaan kesehatan yang memadai melalui anggaran publik maupun Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) agar program promotif, preventif, dan kuratif dapat berjalan secara berkesinambungan.
Ia juga menyoroti adanya hubungan antara rendahnya investasi kesehatan dengan tingginya angka kasus serta kematian akibat dengue di berbagai wilayah.
Teknologi Wolbachia Diperkenalkan sebagai Solusi Inovatif
Rangkaian ASEAN Dengue Day 2026 ditutup dengan workshop bertajuk “Teknologi Pengendalian Vektor Inovatif Berbasis Wolbachia.”
Kegiatan tersebut memperkenalkan pengalaman implementasi teknologi Wolbachia selama 15 tahun, mulai dari proses produksi nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia, strategi pelepasan di lapangan, pembangunan kapasitas sumber daya manusia, sistem pemantauan, hingga diskusi bersama tim pelaksana Wolbachia UGM.
Workshop tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pemanfaatan inovasi berbasis bukti ilmiah dalam mendukung pengendalian dengue di Indonesia, sekaligus memperkuat kolaborasi menuju target nol kematian akibat dengue pada 2030. [aje]






