Jember (beritajatim.com) – Universitas Jember di Kabupaten Jember, Jawa Timur, merespons isu perubahan iklim dengan mempertahankan 50 persen lahan di kampus untuk ruang terbuka hijau dan memuncullkan isu lingkungan dalam mata kuliah.
Luas lahan kampus Unej kurang lebih 87 hektare di Jember saja. Ini belum termasuk kampus di Bondowoso, Lumajang, dan Pasuruan.
“Kami tetap mengadopsi yang namanya green campus. Kalau dibilang Unej paru-paru kota di Jember, itu tetap kami pertahankan. Kalau teman-teman lihat, ada daerah-daerah yang seolah-olah tidak tersentuh. Itu memang kita biarkan,” kata Wakil Rektor IV Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Sistem Informasi Bambang Kuswandi, di sela-sela acara Unej Climate Change Conference di Gedung Auditorium, Senin (17/11/2025).
Menurut Bambang, sejumlah hewan seperti burung dan serangga hidup di ruang terbuka hijau tersebut. “Ke depan Unej hanya membangun di daerah-daerah yang memang sudah dibangun. Tidak lagi ke samping tapi ke atas,” katanya.
Pembangunan infrastruktur di daerah terbuka hijau, menurut Bambang, memerlukan kajian lebih dulu. “Tapi insyaallah dengan metode yang kami kembangkan, apalagi sekarang ada kelas hibrid, dengan kelas virtual, paling tidak mengurangi kebutuhan gedung,” katanya.
Kebijakan ini, menurut Bambang, berkelanjutan di semua kepemimpinan rektor. “Kami punya tim lingkungan. Jadi kalau di Unej ini ada pohon yang tumbang, tidak langsung dipotong. Tim lingkungan ini yang akan turun untuk melihat apakah perlu dipotong, diganti tanaman baru atau cukup dirapikan saja,” katanya.
Tak hanya dalam lanskap kewilayahan, isu iklim juga direspons dengan mata kuliah wajib. “Salah satunya adalah pertanian industri berkelanjutan. Nah, di situ muncul isu-isu terkait dengan climate change, karena kita bisa sustain kalau bisa beradaptasi dengan perubahan iklim,” kata Bambang. [wir]






