Surabaya (beritajatim.com) – Universitas Airlangga (Unair) menegaskan komitmennya dalam mempercepat sertifikasi halal nasional melalui gelaran Airlangga KHAIR 2025: Konferensi Nasional Halal dan Inovasi Riset, yang berlangsung pada Rabu (25/6/2026) di ASEEC Tower, Kampus B.
Konferensi ini mengangkat tema “Harmonisasi Regulasi pada Hulu Sertifikasi Halal dan Inovasi untuk Keberlanjutan Ekosistem Halal.” Kegiatan ini menjadi wadah strategis untuk mempertemukan akademisi, pemerintah, dan pelaku usaha dalam membahas tantangan sekaligus peluang dalam penguatan ekosistem halal nasional, khususnya terkait percepatan sertifikasi halal di Indonesia.
Wakil Rektor Unair Bidang Akademik, Mahasiswa, dan Alumni Unair, Prof. Bambang Sektiari Lukiswanto menyoroti masih lemahnya pengawasan dan literasi halal di sektor hulu, seperti rumah potong hewan.
“Unair terus berupaya memperkuat inovasi dan riset halal. Ini sejalan dengan dukungan terhadap capaian SDGs dan peningkatan peringkat global Unair,” ujarnya.
Ketua Pusat Halal Unair, Dr. Abdul Rahem menegaskan bahwa sejak berdiri pada 2017, Pusat Halal Unair telah aktif melakukan sertifikasi halal, mendampingi UMK, hingga membentuk Lembaga Pemeriksa Produk Halal (LP3H) dan laboratorium halal.
“Kami telah mendampingi pelaku usaha di NTB, Kalimantan Selatan, dan Jawa Timur, serta membantu percepatan pembuatan NIB melalui kerja sama lintas dinas,” jelasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa seluruh tenant makanan dan minuman di kantin Unair kini telah bersertifikat halal. Selain itu, Unair juga tercatat sebagai kampus yang terlibat dalam riset vaksin halal pertama di Indonesia. “Sebanyak 62 tenant kantin Unair sudah 100 persen halal, berkat kerja sama dengan MPOPM-MUI,” tambahnya.
Peringkat Halal Indonesia Menurun, Regulasi Hulu Dinilai Lemah
Sekretaris Utama Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kementerian Agama, Dr. Muhammad Aqil Irham menyampaikan kekhawatiran atas penurunan peringkat Indonesia dalam Global Muslim Travel Index (GMTI). “Kita pernah di posisi pertama, kini turun ke peringkat kelima. Ini harus jadi alarm,” tegasnya.
Menurutnya, salah satu titik lemah ekosistem halal Indonesia berada di sektor hulu, seperti rumah potong hewan dan pasar tradisional.
Ia membandingkan dengan Australia yang menerapkan disiplin ketat pada penyembelihan halal. “Di sana, penyembelih harus patuh syariat. Kalau lalai, bisa diberhentikan. Ini jadi contoh disiplin dalam ekosistem halal,” tandasnya. [ipl/kun]






